skip to main | skip to sidebar

Tuesday, September 28, 2010

Rasulullah Mendatangi Kafilah Dagang

0 comments

Dari kejauhan gumpalan debu padang pasir membumbung ke langit. Debu-debu yang berterbangan itu dapat terlihat dari kejauhan bertanda ada satu rombongan kafilah akan datang mendekati kota Mekkah. Rasulullah s.a.w. melihat gumpalan debu dari kejauhan itu segera pulang ke rumah. Nabi Muhammad s.a.w. langsung menyiapkan perbekalan dan membungkusnya.

Setelah itu Rasulullah s.a.w. menunggu di pintu gerbang kota Mekkah. Kafilah itu rupanya tidak memasuki kota Mekkah mereka hendak menuju tempat lain. Rasulullah s.a.w. mendekati kafilah itu dan mencari pimpinan rombongan kafilah tersebut. Setelah berjumpa dengan pemimpin kafilah itu Rasulullah s.a.w.  meminta izin untuk dapat ikut serta di dalamrombongan tersebut. 

Beliau, Rasulullah s.a.w. telah diizinkan. Rasulullah s.a.w.  mulailah berdakwah kepada mereka, kepada setiap orang dalam rombongan itu Rasulullahs.a.w.  telah sampaikan kebesaran Allahs.w.t. dan mengajak mereka untuk menerima Islam. Setelah semua orang mendapat penjelasan dari Rasulullah s.a.w. , Rasulullahs.a.w. pun meminta izin kepada pimpinan rombongan untuk pulang kembali keMekkah. 

Rasulullah s.a.w. kembali ke kota Mekkah dengan berjalan kaki sedangkan kafilah tersebut telah melalui kota Mekkah sejauh satu hari satu malamperjalanan. Rasulullah s.a.w. hanya inginkan setiap orang memiliki kalimah Laalilaahaillallaah dan selamat dari adzab yang pedih kelak diakhirat.

*Source 1001 Kisah Teladan


Sunday, September 26, 2010

Gunung Menangis Takut Tergolong Batu Api Neraka

0 comments

Pada suatu hari Uqa'il bin Abi Thalib telah pergi bersama-sama dengan Nabi Muhammad s.a.w.. Pada waktu itu Uqa'il telah melihat berita ajaib yang menjadikan tetapi hatinya tetap bertambah kuat di dalam Islam dengan sebab tiga perkara tersebut.

Peristiwa pertama adalah, bahawa Nabi Muhammad s.a.w. akan mendatangi hajat yakni mebuang air besar dan di hadapannya terdapat beberapa batang pohon. Maka Baginda s.a.w. berkata kepada Uqa'il, "Hai Uqa'il teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu, dan katalah kepadanya, bahawa sesungguhnya Rasulullah berkata; "Agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi aling-aling atau penutup baginya, kerana sesungguhnyaBaginda akan mengambil air wuduk dan buang air besar."

Uqa'il pun keluar dan pergi mendapatkan pohon-pohon itu dan sebelum dia menyelesaikan tugas itu ternyata pohon-pohon sudah tumbang dari akarnya serta sudah mengelilingi di sekitar Baginda s.a.w. selesai dari hajatnya. Maka Uqa'il kembali ke tempat pohon-pohon itu.

Peristiwa kedua adalah, bahawa Uqa'il berasa haus dan setelah mencari air ke mana pun jua namun tidak ditemui. Maka Baginda s.a.w. berkata kepada Uqa'il bin Abi Thalib, "Hai Uqa'il, dakilah gunung itu, dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan, "Jika padamu ada air, berilah aku minum!"

Uqa'il lalu pergilah mendaki gunung itu dan berkata kepadanya sebagaimana yang telah disabdakan Baginda s.a.w. itu. Maka sebelum ia selesai berkata, gunung itu berkata dengan fasihnya,"Katakanlah kepada Rasulullah, bahawa aku sejak Allahs.w.t.  menurunkan ayat yang bermaksud : 

("Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari (seksa) api neraka yang umpannya dari manusia dan batu)." "Aku menangis dari sebab takut kalau aku menjadi batu itu maka tidak ada lagi air padaku."

Peristiwa yang ketiga ialah, bahawa ketika Uqa'il sedang berjalan dengan Nabi Muhammad s.a.w., tiba-tiba ada seekor unta yang meloncat dan lari ke hadapan Rasulullahs.a.w., maka unta itu lalu berkata, "Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu."

Unta masih belum selesai mengadukan halnya, tiba-tiba datanglah dari belakang seorang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus. Melihat orang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus, Nabi Muhammads.a.w. berkata, "Hendak apakah kamu terhadap unta itu ?"

Jawab orang kampungan itu, "Wahai Rasulullah, aku telah membelinya dengan harta yang mahal, tetapi dia tidak mahu taat atau tidak mau jinak, maka akan kupotong saja dan akan kumanfaatkan dagingnya (kuberikan kepada orang-orang yangmemerlukan)."

Nabi Muhammad s.a.w.bertanya, "Mengapa engkau menderhakai dia?"

Jawab unta itu, "Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak menderhakainya dari satu pekerjaan, akan tetapi aku menderhakainya dari sebab perbuatannya yang buruk. Kerana kabilah yang dia termasuk di dalam golongannya, sama tidur meninggalkan solat Isya'. Kalau sekiranya dia mahu berjanji kepada engkau akan mengerjakan solat Isay' itu, maka aku berjanji tidak akan menderhakainya lagi. Sebab aku takut kalau Allah s.w.t.  menurunkan seksa-Nya kepada mereka sedang aku berada di antara mereka."

Akhirnya Nabi Muhammad s.a.w. mengambil perjanjian orang Arab kampung itu, bahawa dia tidak akan meninggalkan solat Isya'. DanBaginda Nabi Muhammad s.a.w. menyerahan unta itu kepadanya. Dan dia pun kembali kepada keluarganya.

*Source 1001 Kisah Teladan

Friday, September 24, 2010

Intelejen Dalam Perang Badar

0 comments

Perang Badar merupakan “purnama” dalam sejarah kemanusiaan yang menerangi jalan para penempuh jalan. Perang Badar merupakan “purnama” yang bersinar di langit dan dirayakan oleh para malaikat. Perang Badar merupakan “purnama” di bumi dan di kalangan para penduduknya.

Orang-orang yang ikut berperang benar-benar menjadi purnama yang cahayanya menerangi seluruh sisi kehidupan mereka. Perang Badar merupakan “purnama” dalam sejarah berbagai pembebasan militer. Bintang-bintangnya menerangi dengan berbagai pelajaran dan hikmah mereka. Perang Badar merupakan “purnama” dan garis pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Juga menjadi mahkota kebanggaan di atas kepala zaman dan kepala setiap pahlawan Islam yang ikut serta di dalamnya. Di dalam masyarakat Islam tidak ada seorang pun yang dapat mengungguli keutamaan para mujahidin Badar.
 
Perang Badar dinilai sangat signifikan dalam aspek sejarah, kemiliteran, politik dan pemikiran karena ia merupakan pertarungan bersenjata yang pertama kali terjadi antara pembela kebenaran dengan pembela kebatilan. Pertarungan ini dinilai sangat menentukan karena di dalam pertarungan inilah ditentukan nasib Kaum Mukminin dan kaum kafir. Salah satu pernyataan Rasulullah SAW tentang peperangan ini mengisyaratkan urgensi pertempuran ini seandainya kaum Musyrikin berhasil mengalahkan kaum Mukminin. Nabi Muhammad SAW mengungkapkan doa dan munajat kepada Allah, memohon kemenangan yang dijanjikanNya

“Ya Allah, jika Engkau suka, Engkau tidak akan disembah setelah hari ini”

Bila kita membaca sirah Nabi SAW di dalam perang Badar dan semua peperangan yang pernah dilakukannya, pasti akan mengetahui betapa besar perhatian Nabi Muhammad SAW terhadap langkah intelejen untuk mendapatkan berbagai informasi tentang musuhnya dan perhitungan yang cermat terhadap semua gerak dan diam yang ditunjukkan oleh musuh. Oleh sebab itu Rasulullah SAW mengutus sejumlah pasukan kecil untuk menginvestigasi dan mengintai pasukan musuh. Biasanya sebelum keberangkatan pasukan, Nabi Muhammad SAW memberangkatkan satu pasukan kecil yang bertugas menjelajahi wilayah di depannya, sebagai langkah antisipasi terhadap serangan rahasia atau menghindari pengintaian dan pelacakan.

Dalam peperangan ini Rasulullah SAW menugaskan dua orang sahabat, Basbas bin Amir r.a dan Ady bin Abu Za`ba r.a untuk mencari informasi tentang Abu Sufyan hingga mendapatkan informasi tentang tempat keberadaannya. Keduanya mendengar informasi tersebut dari dua orang wanita dan dibenarkan oleh seorang tua bernama Majdi bin Amir.

Setelah mendapatkan informasi itu keduanya lalu kembali kepada Rasulullah SAW melaporkan “Wahai Rasulullah, dia tinggal di mata air anu pada hari anu, dan kita tinggal di mata air anu pada hari anu, dia turun di mata air anu pada hari anu sedangkan kita turun di mata air anu, hingga kita bertemu dia di mata air tersebut”

Perhatikanlah bagaimana pasukan perintis dan investigasi ini menggunakan berbagai informasi yang diperolehnya untuk memperkirakan waktu dan tempat pertemuan dengan kafilah, apabila segala sesuatunya berjalan secara normal tanpa ada hal-hal yang insidental. Setelah turun di dekat mata air Badar, Nabi Muhammad SAW ingin mendapatkan berbagai informasi tentang Quraisy, kemudian Nabi SAW bersama Abu Bakar r.a turun menemui seorang tua yang mengetahui berbagai gerakan di wilayah tersebut.

Nabi Muhammad SAW menanyakan kepadanya tentang berita Quraisy dan Muhammad beserta para sahabatnya. Kemudian orang tua itu memberitahukan tempat kedua belah pihak dengan sangat akurat.
Ketika Quraisy mengirimkan pasukannya untuk memerangi kaum Muslimin di Badar, Rasulullah SAW mengutus Ali bin Abi Thalib r.a, Zubair bin Awwam r.a, Sa`ad bin Abi Waqqash r.a dan Basbas bin Amir r.a untuk mencari berbagai berita kaum Musyrikin di mata air, sehingga mereka mendapati sejumlah petugas urusan persediaan air lalu mereka menangkap dan membawa dua orang diantaranya ke kamp kaum Muslimin untuk di interogasi.

Rasulullah SAW sendiri yang menginterogasi kedua orang tersebut sehingga berhasil mendapatkan sejumlah informasi akurat tentang Qurisy baik menyangkut jumlah, peralatan ataupun para pemimpin mereka. Diantara interogasi tersebut adalah :

Nabi Muhammad SAW                  : Berapa jumlah mereka ?

Kedua orang Quraisy                      : Banyak

Nabi Muhammad SAW                  : Apa perlengkapan mereka ?

Kedua orang Quraisy                      : Kami tidak tahu

Nabi Muhammad SAW                  : Berapa ekor unta yang mereka sembelih setiap hari ?

Kedua orang Quraisy                      : Kadang sehari sembilan ekor dan kadang sepuluh

Nabi Muhammad SAW                  : Mereka antara Sembilan ratus dan seribu orang. Siapa saja para pemimpin Quraisy yang ikut ?

Kedua orang Quraisy                      : Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Al Bukhturi bin Hisyam dan lima belas tokoh Quraisy lainnya

Kemudian Rasulullah SAW menghadap kepada para sahabatnya seraya berkata “Mekkah telah melemparkan jantung hatinya kepada kalian”

Sejarah mencatat bahwa pemimpin Quraisy Abu Sufyan bin Harb juga dikenal sangat waspada dan hati-hati. Ia mencari berbagai berita tentang kaum Muslimin dan menanyakan gerakan-gerakan mereka, bahkan ia sendiri ikut melacak informasi tentang kaum Muslimin. Sejarah menceritakan kepada kita bahwa Abu Sufyan datang dari Syam dengan terlebih dahulu sampai di mata air Badar.

Dengan penuh waspada ia bertanya kepada orang-orang yang ada di tempat tersebut “Apakah kalian melihat seseorang ?”.

Mereka menjawab “Tidak, kecuali dua orang”.

Abu Sufyan berkata “Tunjukkan aku kepada tempat tambatan kendaraan kedua orang tersebut”.

Kemudian mereka memberitahukannya. Abu Sufyan lalu mengambil tahi binatang dan menghancurkannya sampai dia menemukan biji-bijian. Abu Sufyan berkata “Demi Allah, ini adalah pakan hewan dari Yatsrib”.

Abu Sufyan berhasil mengetahui gerakan-gerakan musuhnya sampai berita tentang ekspedisi investigasi, melalui pakan binatang tunggangannya dan setelah mengamati tahi unta yang ditinggalkannya. Akhirnya ia mengetahui bahwa kedua orang tersebut berasal dari Madinah yakni Kaum Muslimin dan dengan demikian kafilah dagangannya dalam bahaya.

Dari paparan diatas dapat diambil pelajaran bahwa seorang komandan hendaknya menyembunyikan segala sesuatu yang mungkin bisa dijadikan oleh pihak musuh sebagai bahan untuk menyimpulkan informasi. Sesuatu tersebut bisa jadi sangat tidak berharga tetapi hendaknya tidak disepelekan. Di zaman modern musuh bisa mengetahui banyak hal tentang musuhnya apabila diketahui jumlah makanan sehari-hari yang dikonsumsinya. Juga bisa mengambil kesimpulan jika telah diketahui jumlah bahan bakar yang dihabiskan oleh semua kendaraan musuh, sehingga bisa diperkirakan berapa jumlahnya dan apa jenisnya.

Kadang-kadang pasukan menyembunyikan berapa jumlah korban yang dialaminya tetapi ia lupa akan satu sisi yang bisa menjadi indikasinya, misalnya ucapan bela sungkawa di berbagai media massa, sehingga pihak lawan dapat menyimpulkan berapa kerugian yang dialaminya melalui ucapan bela sungkawa tersebut. Dalam hal ini Abu Sufyan benar-benar seorang pemimpin yang patut diingat dengan peristiwa dan kehati-hatiannya.

Demikian pula kaum Muslimin patut mengambil pelajaran dari kasus ini. Setelah menyadari bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya tengah memburu kafilah dan bisa saja mereka menguasainya dalam sesaat, Abu Sufyan segera mengambil dua langkah strategi.

Pertama, memilih Dhamdham bin Amir Al Ghifari sebagai utusan kepada Quraisy untuk meminta bala bantuan bagi penyelamatan kafilah mereka yang tengah dicegat oleh Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Kedua, mengubah jalur perjalanan kafilah yang berkemungkinan telah dicegat oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya menuju kearah pantai laut merah dan berjalan menyelamatkan kafilah melalui jalur Saiful Bahr hingga sampai ke Mekkah.

Dari langkah strategi pertama yang dilakukan Abu Sufyan dapat diambil sebuah pelajaran yang sangat penting, yaitu memilih seseorang yang sesuai untuk tugas yang sesuai. Manusia memiliki sejumlah potensi dan kemampuan yang beraneka ragam, ilmiah, manajemen, kepemimpinan, sosial, peperangan dan lain sebagainya. Seorang pemimpin yang sukses adalah orang yang mengetahui berbagai potensi dan kemampuan prajuritnya kemudian menata dan memfungsikan masing-masing pada posisi yang sesuai dan produktif, yang akan bermanfaat bagi kemaslahatan umum.

Abu Sufyan telah berhasil memilih Dhamdham bin Amir Al Ghifari untuk meminta bala bantuan Quraisy dan menggerakkannya dengan cepat demi melindungi keselamatan kafilah dagang. Lalu Dhamdham bin Amir Al Ghifari melakukan aksi yang menarik perhatian seisi kota Mekkah. Setiap orang yang melihat atau mendengarnya pasti akan terpesona. Ia datang kepada mereka dengan menggeser pelana untanya, memotong hidung untanya, merobek bajunya dari arah depan dan belakang dan masuk Kota Mekkah seraya berteriak lantang “Wahai Kaum Quraisy! Kafilah! Kafilah! Harta kalian yang dibawa Abu Sufyan terancam Muhammad dan para sahabatnya. Aku tidak melihat kecuali kalian harus segera menyusulnya. Selamatkan! Selamatkan!

*Source Kisah Islami 

Tuesday, September 21, 2010

Asal 4 Buah Sungai Di Dalam Syurga

0 comments

Bersabda Rasulullah : “ Semasa aku israk dan naik ke langit yang tinggi, malaikat Jibril telah memberi kesempatan kepada aku untuk melihat ke dalam semua Syurga Allah. Aku lihat didalamnya terdapat 4 buah sungai yang besar-besar dan airnya bermacam-macam. Ada air susu, air madu, air arak dan air yang tidak masin”.

Aku bertanya kepada Jibril : “Wahai Jibril, dari manakah asalnya sungai-sungai ini dan ke manakah akhirnya?

Jibril menjawab “Wahai Rasulullah, aku hanya tahu ia mengalir ke dalam Telaga al-Kausar sahaja dan aku tidak mengetahui dari mana asalnya”

Aku pun memohon petunjuk Allah dan muncullah seorang malaikat dengan memberi salam. Setelah aku menjawab salamnya, dia menyuruh aku memejamkan mataku. Lalu aku memejamkan mata. Apabila aku membuka mata, aku berada dekat sepohon pokok yang besar dibuat daripada permata yang putih berkilauan manakala pintu-pintunya daripada yakut hijau dan kunci-kuncinya daripada emas.

Aku melihat empat batang sungai sedang mengalir dari bawahnya. Aku mahu kembali tetapi ditahan oleh malaikat dengan bertanya, “Tidakkah engkau ingin melihat didalamnya?” 

Aku pun bertanya “Bagaimana aku dapat masuk sedangkan pintunya berkunci? Dimanakah kuncinya?”

Jawab malaikat itu, “Kunci didalam tanganmu”.

Tanyaku lagi “Dimana?.

Jawabnya “ Cukup engkau membaca Bismillahirahmanirrahim”.

Lalu aku pun ucapkan dan pintu terbuka dengan sendirinya dan aku pun masuk ke dalam. Sungguh hebat ciptaan Allah, sungai-sungai itu memancutkan airnya dari empat buah tiang yang besar.

Melihat aku mahu keluar, malaikat bertanya lagi kepadaku “Apakah engkau sudah cukup puas melihat pemandangan ini? Sesungguhnya masih ada yang engkau belum lihat. Cubalah engkau perhatikan sekali lagi dengan baik-baik, dari apakah sungai-sungai itu memancutkan airnya.

Lalu aku pun perhatikan sekali lagi. Aku lihat terdapat kalimah Bismillahirahmanirrahim di antara empat batang tiangnya. Dari huruf mim perkataan Bismillah, keluar air sungai tawar. Dari lubang ha’ perkataan Allah, keluar air sungai susu. Dari lubang huruf mim perkataan ar-rahman, keluar air sungai arak. Dan dari lubang mim dari perkataan ar-rahim, keluar air sungai madu. 

Dari itu, barang siapa dari umatku membaca Bismillahirahmanirrahim, pasti akan dapat minum air sungai ini di akhirat kelak.




Wednesday, September 8, 2010

Pelacur Yang Insaf

0 comments

Al-Malikah adalah seorang Primadona dari Bani Israel. Dia merupakan seorang pelacur kelas tertinggi. Upah khidmatnya mahal yakni 100 dinar setiap kali perkhidmatannya. Dia memang cantik sehinggakan Abid tergila-gilakannya. Sayangnya, Abid seorang yang miskin dan tidak mempunyai wang yang cukup untuk mendapatkan khidmat Al-Malikah.

Disebabkan nafsu Abid yang meluap-luap itu membuatkan hati Abid tergila-gila, dikerah tenaganya untuk mengumpul wang sebanyak yang diperlukan. “Primadona itu harus berada dalam dakapannya,” bisik hati kecilnya.

Dengan berbekalkan 100 dinar, Abid datang menemui Al-Malikah pujaannya. “Silakan masuk,” pelawa Al-Malikah dengan manisnya. Mendengar sapaan pujaannya itu, Abid melangkahkan kakinya masuk ke bilik Al-Malikah. Hari itu nafsu berahinya akan dipenuhi kerana wang sudah berada dalam tangannya.

Akan tetapi, apa yang terjadi tiada siapa yang dapat menduganya. Entah bagaimana tiba-tiba sahaja badan Abid menggeletar. Peluh dinginnya merencik keluar. Malah ketika pelacur itu memeluknya, Abid berusaha melepaskan diri sambil berteriak. “Lepaskan aku, ambillah wang 100 dinar ini,” sambil dia bangkit dari katil pelacur itu.

“Mengapa engkau tiba-tiba menjadi begini?” tanya Al-Malikah. 


“Aku takut kepada azab Allah! Bagaimana nanti aku akan mempertanggungjawabkan perbuatan maksiatku ini?” ujarnya.

Mendengarkan jawapan itu, terpegun Al-Malikah di katilnya. Nuraninya tersentuh oleh sikap lelaki yang berdiri dekatnya. Suatu peristiwa aneh yang tidak pernah dialaminya sebelum ini. Tanpa disedarinya, air matanya mengalir di pipi. Terbayang olehnya sejuta dosa yang menyelubunginya sebagai perempuan murahan lagi hina.


“Aku tertarik kepadamu. Jadikanlah aku isterimu” kata Al-Malikah tersedu-sedu. 

“Tidak! Aku akan meninggalkan tempat ini” jawab Abid. 

“Jangan pergi! kecuali engkau berjanji akan mengahwiniku.”

“Baiklah,” ujar Abid singkat sambil meninggalkan bilik maksiat itu.

Sebaik sahaja Abid meninggalkan bilik, pelacur bernama Al-Malikah ini sudah bertekad akan meninggalkan maksiat itu untuk selama-lamanya. Dia sudah menyesal dan ingin bertaubat. Al-Malikah akhirnya melangkah keluar untuk mencari Abid, lelaki yang telah menyedarkan dirinya dari lumuran dosa dan maksiat. Tekadnya sudah membulat. Dia mesti berkahwin juga dengan Abid yang beriman itu.

Al-Malikah menuju ke negeri tempat tinggal Abid dengan penuh debaran. Sebaliknya setelah bertemu, Abid kelihatan ketakutan. Lantaran ketakutan yang mendadak dan keterlaluan telah menyebabkan Abid pengsan lalu meninggal dunia. Menangislah Al-Malikah menyaksikan lelaki pujaannya meninggal dunia sebelum sempat berkahwin dengannya.

“Gagal berkahwin dengan Abid, dapat saudaranya pun tidak mengapa!” Pinta Al-Malikah dengan dorongan ingin menebus dosanya selama ini.

Seorang teman Abid memberitahu bahawa saudara Abid adalah seorang lelaki yang miskin. Dia khuatir Al-Malikah akan menyesal nanti. 


“Biarlah dia miskin. Aku tetap ingin berkahwin dengannya sebagai memenuhi rasa cintaku terhadap saudaranya,” kata Al-Malikah.

Jadilah Al-Malikah bekas pelacur yang insaf. Dia berkahwin dengan lelaki miskin. Allah telah membuka hati wanita itu dengan taufiq dan hidayahNya. Maka, berbahagialah Al-Malikah seorang bekas Primadona bersama suaminya yang tercinta.

*Source Abang Bercerita.


ShareThis

 

Kisah Kisah Islam Copyright © 2011 | Template created by O Pregador | Powered by Blogger