skip to main | skip to sidebar


Showing posts with label Peperangan. Show all posts
Showing posts with label Peperangan. Show all posts

Sunday, April 17, 2011

Tariq bin Ziyad Mengukir Karang dengan Namanya

0 comments

Mendung hitam menggelayut di atas bumi Spanyol. Eropa sedang dikangkangi oleh penjajah, Raja Gotik yang kejam. Wanita merasa terancam kesuciannya, petani dikenakan pajak tanah yang tinggi, dan banyak lagi penindasan yang tak berperikemanausiaan. Raja dan anteknya bersukaria dalam kemewahan sedang rakyat merintih dalam kesengsaraan. Sebagian besar penduduk yang beragama Kristen danYahudi, mengungsi ke Afrika, berharap mendapat ketenangan yang lebih menjanjikan. Dan saat itu Afrika, adalah sebuah daerah yang makmur dan mempunyai toleransi yang tinggi karena berada di bawah naunganpemerintahan Islam.

Satu dari jutaan pengungsi itu adalah Julian, Gubernur Ceuta yang putrinya Florinda telah dinodai Roderick, raja bangsa Gotik. Mereka memohon pada Musa bin Nusair, raja muda Islam di Afrika untuk memerdekakan negeri mereka dari penindasan raja yang lalim itu.Setelah mendapat persetujuan Khalifah, Musa melakukan pengintaian kepantai selatan Spanyol. Bulan Mei tahun 711 Masehi, Tariq bin Ziyad,budak Barbar yang juga mantan pembantu Musa bin Nusair memimpin 12.000 anggota pasukan muslim menyeberangi selat antara Afrika dan daratan Eropa.

Begitu kapal-kapal yang berisi pasukannya mendarat di Eropa, Tariq mengumpulkan mereka di atas sebuah bukit karang, yang dinamai JabalTariq (karang Tariq) yang sekarang terkenal dengan nama Jabraltar. Diatas bukit karang itu Thariq memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah menyeberangkan mereka.Tentu saja perintah ini membuat prajuritnya keheranan.

"Kenapa Anda lakukan ini?" tanya mereka. "Bagaimana kita kembali nanti?" tanya yang lain.

Namun Tariq tetap pada pendiriannya. Dengan gagah berani ia berseru,"Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya pilihan, menaklukkan negeri ini dan menetap di sini, atau kita semua syahid."

Keberanian dan perkataannya yang luar biasa menggugah Iqbal, seorang penyair Persia, untuk menggubahnya dalam sebuah syair berjudul "Piyam-i Mashriq".

Tatkala Tariq membakar kapal-kapalnya di pantai Andalusia (Spanyol),Prajurit-prajurit mengatakan, tindakannya tidak bijaksana. Bagaimana bisa mereka kembali ke negeri Asal, dan perusakan peralatan adalah bertentangan dengan hukum Islam. Mendengar itu semua, Tariq menghunus pedangnya, dan menyatakan bahwa setiap negeri kepunyaan Allah adalah kampung halaman kita."

Kata-kata Tariq itu bagaikan cambuk yang melecut semangat prajurit muslim yang dipimpinnya. Bala tentara muslim yang berjumlah 12.000 orang maju melawan tentara Gotik yang berkekuatan 100.000 tentara. Pasukan Kristen jauh lebih unggul baik dalam jumlah maupun persenjataan. Namun semua itu tak mengecutkan hati pasukan muslim.

Tanggal 19 Juli tahun 711 Masehi, pasukan Islam dan Nasrani bertemu, keduanya berperang di dekat muara sungai Barbate. Pada pertempuran ini, Tariq dan pasukannya berhasil melumpuhkan pasukan Gotik, hingga Raja Roderick tenggelam di sungai itu. Kemenangan Tariq yang luar biasa ini, menjatuhkan semangat orang-orang Spanyol dan semenjak itu mereka tidak berani lagi menghadapi tentara Islam secara terbuka.

Tariq membagi pasukannya menjadi empat kelompok, dan menye-barkan mereka ke Kordoba, Malaga, dan Granada. Sedangkan dia sendiri bersama pasukan utamanya menuju ke Toledo, ibukota Spanyol. Semua kota-kota itu menyerah tanpa perlawanan berarti. Kece-patan gerak dan kehebatan pasukan Tariq berhasil melumpuhkan orang-orang Gotik.

Rakyat Spanyol yang sekian lama tertekan akibat penjajahan bangsa Gotik, mengelu-elukan orang-orang Islam. Selain itu, perilaku Tariq dan orang-orang Islam begitu mulia sehingga mereka disayangi oleh bangsa-bangsa yang ditaklukkannya. Salah satu pertempuran paling seru terjadi di Ecija, yang membawakemenangan bagi pasukan Tariq. Dalam pertempuran ini, Musa bin Nusair, atasannya, sang raja muda Islam di Afrika ikut bergabung dengannya.

Selanjutnya, kedua jenderal itu bergerak maju terus berdampingan dan dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun seluruh dataran Spanyol jatuh ke tangan Islam. Portugis ditakluk-kan pula beberapa tahun kemudian. "Ini merupakan perjuangan utama yang terakhir dan paling sensasional bagi bangsa Arab itu," tulis Phillip K.Hitti, " dan membawa masuknya wilayah Eropa yang paling luas yang belum pernah mereka peroleh sebelumnya ke dalam kekuasaan Islam. Kecepatan pelaksanaan dan kesempurnaan keberha-silan operasi ke Spanyol ini telah mendapat tempat yang unik di dalam sejarah peperangan abad pertengahan."

Penaklukkan Spanyol oleh orang-orang Islam mendorong timbulan-yarevolusi sosial di mana kebebasan beragama benar-benar diakui. Ketidak toleranan dan penganiayaan yang biasa dilakukan orang-orang Kristen, digantikan oleh toleransi yang tinggi dan kebaikan hati yangluar biasa. Keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu, sehingga jika tentara Islam yang melakukan kekerasan akan dikenakan hukuman berat. Tidak ada harta benda atau tanah milik rakyat yang disita.Orang-orang Islam memperkenalkan sistem perpajakan yang sangat jitu yang dengan cepat membawa kemakmuran di semenanjung itu dan menjadikan negeri teladan di Barat.

Orang-orang Kristen dibiarkan memiliki hakim sendiri untuk memutuskan perkara-perkara mereka. Semua komunitas mendapat kesempatan yang sama dalam pelayanan umum. Pemerintahan Islam yang baik dan bijaksana ini membawa efek luar biasa. Orang-orang Kristen termasuk pendeta-pendetanya yang pada mulanya meninggalkan rumah mereka dalam keadaan ketakutan, kembali pulang dan menjalani hidup yang bahagia dan makmur.

Seorang penulis Kristen terkenal menulis: "Muslim-muslim Arab itu mengorganisir kerajaan Kordoba yang baik adalah sebuah keajaiban Abad Pertengahan,mereka mengenalkan obor pengetahuan dan perada-ban, kecemerlangan dan keistimewaan kepada dunia Barat. Dan saat itu Eropa sedang dalam kondisi percekcokan dan kebodohan yang biadab."

Tariq bermaksud menaklukkan seluruh Eropa, tapi Allah menentukan lain. Saat merencanakan penyerbuan ke Eropa, datang panggilan dari Khalifah untuk pergi ke Damaskus. Dengan disiplin dan kepatuhan tinggi, Tariq memenuhi panggilan Khalifah dan berusaha tiba seawal mungkin di Damaskus. Tak lama kemudian, Tariq wafat di sana. Budak Barbar, penakluk Spanyol, wilayah Islam terbesar di Eropa yang selama delapan abad di bawah kekuasaan Islam telah memenuhi panggilan Rabbnya. Semoga Allah merahmatinya.

*Source Kisah-Kisah Islam 


Monday, March 28, 2011

Para Malaikat Menolong Nabi S.A.W Dan Sahabatnya Dalam Perang Al-Ahzab

0 comments

"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya, Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan." (al-Ahzab:9). 

Al-Allamah bin Katsir berkata, "Allah SWT berfirman memberitahukan nikmat, keutamaan, dan kebaikan-Nya yang telah di anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dalam menghadapi dan mengalahkan musuh-musuhnya pada saat mereka terkepung. Hal itu terjadi pada tahun Khandaq, bulan Syawal tahun kelima Hijriah dalam pendapat yang sahih dan masyur."Musa bin Aqabah dan lain-lainnya berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun keempat Hijriah.

Adapun yang menjadi menjadi sebab pengepungan tersebut adalah bahwa seorang pemuka Yahudi banin Nadhir yang telah diusir Rasulullah saw. dari kota Madinah ke Khaibar, di dalamnya termasuk Salam bin Abi al-Haqiq, Salam bin Masykam dan Khanah ibnar Rabi', keluar menuju kota Mekah. Mereka berkumpul dengan para pemuka Quraisy dan membujuk mereka untuk memerangi Rasulullah saw. dan menjanjikan kemenangan serta bantuan dari kelompok mereka sendiri. Kaum Quraisy menyetujui usulan mereka dan bersama-sama keluar untuk mengajak kaum Ghathfan bergabung.

Mereka juga menyepakati usulan tersebut. Setelah itu, kaum Quraisy keluar bersama para sekutunya dibawah pimpinan Abu Sufyan Shakhar bin Harb, dan kaum Ghathfan dibawah pimpinan Uyainah bin Hushun bin Badar dengan kekuatan sebesar sepuluh ribu orang. Begitu Rasulullah saw. mendengar bergeraknya mereka untuk melakukan penyerangan, beliau segera memerintahkan kaum muslimin untuk menggali khandaq (lubang) di sekitar kota Madinah yang berhadapan ke timur kota. Hal itu beliau lakukan atas saran Salmah al-Farisi r.a. Dengan penuh ketekunan kaum muslimin bersama Rasulullah saw. bekerja keras menggali dan memindahkan tanah serta batu-batu.

Beberapa waktu kemudian, kaum musyrikin datang membuat kem di sebelah timur kota di dekat Uhud. Lalu salah satu kelompok dari mereka turun ke dataran tinggi kota Madinah, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur'an,

"(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan bawahmu." (al-Ahzab:10)

Rasulullah saw. keluar bersama kaum muslimin yang berkekuatan sekitar 3000 orang, ada yang mengatakan 700 orang. Mereka menyandarkan punggung masing-masing ke bongkahan batu/tanah. Sementara, wajah mereka menghadap ke arah datangnya musuh. Sedangkan khandaq di depan mereka tidak lebih dari sebuah lubang tanpa air yang memisahkan antara mereka dan menghalangi pasukan berkuda dan pejalan kaki untuk sampai kepada mereka, serta menempatkan kaum wanita dan anak-anak di dalam benteng kota.

Bani Quraizhah adalah salah satu kelompok Yahudi yang memiliki benteng di sebelah timur kota Madinah dan terikat perjanjian serta jaminan dengan Rasulullah saw. Jumlah kekuatan mereka sekitar 800 askar.  Lalu Huyai bin Akhthab an-Nadhari pergi menemui mereka dan membujuknya untuk bersama-sama menyerang Rasulullah saw. Ia tidak beranjak dari sana hingga mereka mengkhianati perjanjian yang dibuatnya dan bergabung mengepung Rasulullah saw. dan kaum muslimin. Kini urusannya semakin besar, persoalan semakin rumit, dan keadaan semakin kritis, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an,

"Di situlah diuji orang-orang mukmin, dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat dasyat." (al-Ahzab:11) 

Mereka tetap tinggal di sana melindungi Rasulullah saw. dan para sahabatnya selama hampir satu bulan. Hanya saja kaum musyrikin belum sampai kepada mereka dan tidak terjadi pertempuran antara mereka. Lalu Amrun bin Abdi Wuddin al-'Amri salah seorang pasukan berkuda dan pahlawan pemberani yang tersohor pada zaman jahiliah, bersama beberapa orang prajurit berkuda melintasi khandaq dan berhasil menuju ke arah kaum muslimin.

Rasulullah saw. segera memerintahkan beberapa prajurit berkuda untuk menghadapinya. Namun, tidak ada seorangpun yang menuruti perintahnya. Lalu beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib r.a. yang segera keluar menghadapinya. Untuk beberapa saat keduanya bertempur hingga akhirnya Ali bin Abi Thalib berhasil membunuhnya. Dan ini adalah pertanda kemenangan. Lalu Allah mengirimkan angin topan yang berhembus sangat dasyat ke arah para pengepung hingga tidak ada sebuah tenda pun yang tersisa dan tanpa nyala api. Akhirnya, mereka semua lari meninggalkan ketakutan dan menderita kerugian, sebagaiman firman Allah SWT.

"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan." (al-Ahzab:9)

Firman Allah SWT, "Wa junuudun lam tarauhaa," menurut Ibnu Katsir adalah para malaikat yang membuat mereka (kaum musyrikin) terguncang dan menyusupkan rasa kaget dan takut ke dalam hati mereka. Pada saat itu, setiap kepala kabilah berkata, "Wahai bani Fulan kemarilah kepadaku." Dan mereka pun berkumpul kepadanya dan berkata, "Keselamatan, keselamatan" karena Allah menimpakan ketakutan ke dalam hati mereka.






*Source Kisah-Kisah Islam



Friday, September 24, 2010

Intelejen Dalam Perang Badar

0 comments

Perang Badar merupakan “purnama” dalam sejarah kemanusiaan yang menerangi jalan para penempuh jalan. Perang Badar merupakan “purnama” yang bersinar di langit dan dirayakan oleh para malaikat. Perang Badar merupakan “purnama” di bumi dan di kalangan para penduduknya.

Orang-orang yang ikut berperang benar-benar menjadi purnama yang cahayanya menerangi seluruh sisi kehidupan mereka. Perang Badar merupakan “purnama” dalam sejarah berbagai pembebasan militer. Bintang-bintangnya menerangi dengan berbagai pelajaran dan hikmah mereka. Perang Badar merupakan “purnama” dan garis pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Juga menjadi mahkota kebanggaan di atas kepala zaman dan kepala setiap pahlawan Islam yang ikut serta di dalamnya. Di dalam masyarakat Islam tidak ada seorang pun yang dapat mengungguli keutamaan para mujahidin Badar.
 
Perang Badar dinilai sangat signifikan dalam aspek sejarah, kemiliteran, politik dan pemikiran karena ia merupakan pertarungan bersenjata yang pertama kali terjadi antara pembela kebenaran dengan pembela kebatilan. Pertarungan ini dinilai sangat menentukan karena di dalam pertarungan inilah ditentukan nasib Kaum Mukminin dan kaum kafir. Salah satu pernyataan Rasulullah SAW tentang peperangan ini mengisyaratkan urgensi pertempuran ini seandainya kaum Musyrikin berhasil mengalahkan kaum Mukminin. Nabi Muhammad SAW mengungkapkan doa dan munajat kepada Allah, memohon kemenangan yang dijanjikanNya

“Ya Allah, jika Engkau suka, Engkau tidak akan disembah setelah hari ini”

Bila kita membaca sirah Nabi SAW di dalam perang Badar dan semua peperangan yang pernah dilakukannya, pasti akan mengetahui betapa besar perhatian Nabi Muhammad SAW terhadap langkah intelejen untuk mendapatkan berbagai informasi tentang musuhnya dan perhitungan yang cermat terhadap semua gerak dan diam yang ditunjukkan oleh musuh. Oleh sebab itu Rasulullah SAW mengutus sejumlah pasukan kecil untuk menginvestigasi dan mengintai pasukan musuh. Biasanya sebelum keberangkatan pasukan, Nabi Muhammad SAW memberangkatkan satu pasukan kecil yang bertugas menjelajahi wilayah di depannya, sebagai langkah antisipasi terhadap serangan rahasia atau menghindari pengintaian dan pelacakan.

Dalam peperangan ini Rasulullah SAW menugaskan dua orang sahabat, Basbas bin Amir r.a dan Ady bin Abu Za`ba r.a untuk mencari informasi tentang Abu Sufyan hingga mendapatkan informasi tentang tempat keberadaannya. Keduanya mendengar informasi tersebut dari dua orang wanita dan dibenarkan oleh seorang tua bernama Majdi bin Amir.

Setelah mendapatkan informasi itu keduanya lalu kembali kepada Rasulullah SAW melaporkan “Wahai Rasulullah, dia tinggal di mata air anu pada hari anu, dan kita tinggal di mata air anu pada hari anu, dia turun di mata air anu pada hari anu sedangkan kita turun di mata air anu, hingga kita bertemu dia di mata air tersebut”

Perhatikanlah bagaimana pasukan perintis dan investigasi ini menggunakan berbagai informasi yang diperolehnya untuk memperkirakan waktu dan tempat pertemuan dengan kafilah, apabila segala sesuatunya berjalan secara normal tanpa ada hal-hal yang insidental. Setelah turun di dekat mata air Badar, Nabi Muhammad SAW ingin mendapatkan berbagai informasi tentang Quraisy, kemudian Nabi SAW bersama Abu Bakar r.a turun menemui seorang tua yang mengetahui berbagai gerakan di wilayah tersebut.

Nabi Muhammad SAW menanyakan kepadanya tentang berita Quraisy dan Muhammad beserta para sahabatnya. Kemudian orang tua itu memberitahukan tempat kedua belah pihak dengan sangat akurat.
Ketika Quraisy mengirimkan pasukannya untuk memerangi kaum Muslimin di Badar, Rasulullah SAW mengutus Ali bin Abi Thalib r.a, Zubair bin Awwam r.a, Sa`ad bin Abi Waqqash r.a dan Basbas bin Amir r.a untuk mencari berbagai berita kaum Musyrikin di mata air, sehingga mereka mendapati sejumlah petugas urusan persediaan air lalu mereka menangkap dan membawa dua orang diantaranya ke kamp kaum Muslimin untuk di interogasi.

Rasulullah SAW sendiri yang menginterogasi kedua orang tersebut sehingga berhasil mendapatkan sejumlah informasi akurat tentang Qurisy baik menyangkut jumlah, peralatan ataupun para pemimpin mereka. Diantara interogasi tersebut adalah :

Nabi Muhammad SAW                  : Berapa jumlah mereka ?

Kedua orang Quraisy                      : Banyak

Nabi Muhammad SAW                  : Apa perlengkapan mereka ?

Kedua orang Quraisy                      : Kami tidak tahu

Nabi Muhammad SAW                  : Berapa ekor unta yang mereka sembelih setiap hari ?

Kedua orang Quraisy                      : Kadang sehari sembilan ekor dan kadang sepuluh

Nabi Muhammad SAW                  : Mereka antara Sembilan ratus dan seribu orang. Siapa saja para pemimpin Quraisy yang ikut ?

Kedua orang Quraisy                      : Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Al Bukhturi bin Hisyam dan lima belas tokoh Quraisy lainnya

Kemudian Rasulullah SAW menghadap kepada para sahabatnya seraya berkata “Mekkah telah melemparkan jantung hatinya kepada kalian”

Sejarah mencatat bahwa pemimpin Quraisy Abu Sufyan bin Harb juga dikenal sangat waspada dan hati-hati. Ia mencari berbagai berita tentang kaum Muslimin dan menanyakan gerakan-gerakan mereka, bahkan ia sendiri ikut melacak informasi tentang kaum Muslimin. Sejarah menceritakan kepada kita bahwa Abu Sufyan datang dari Syam dengan terlebih dahulu sampai di mata air Badar.

Dengan penuh waspada ia bertanya kepada orang-orang yang ada di tempat tersebut “Apakah kalian melihat seseorang ?”.

Mereka menjawab “Tidak, kecuali dua orang”.

Abu Sufyan berkata “Tunjukkan aku kepada tempat tambatan kendaraan kedua orang tersebut”.

Kemudian mereka memberitahukannya. Abu Sufyan lalu mengambil tahi binatang dan menghancurkannya sampai dia menemukan biji-bijian. Abu Sufyan berkata “Demi Allah, ini adalah pakan hewan dari Yatsrib”.

Abu Sufyan berhasil mengetahui gerakan-gerakan musuhnya sampai berita tentang ekspedisi investigasi, melalui pakan binatang tunggangannya dan setelah mengamati tahi unta yang ditinggalkannya. Akhirnya ia mengetahui bahwa kedua orang tersebut berasal dari Madinah yakni Kaum Muslimin dan dengan demikian kafilah dagangannya dalam bahaya.

Dari paparan diatas dapat diambil pelajaran bahwa seorang komandan hendaknya menyembunyikan segala sesuatu yang mungkin bisa dijadikan oleh pihak musuh sebagai bahan untuk menyimpulkan informasi. Sesuatu tersebut bisa jadi sangat tidak berharga tetapi hendaknya tidak disepelekan. Di zaman modern musuh bisa mengetahui banyak hal tentang musuhnya apabila diketahui jumlah makanan sehari-hari yang dikonsumsinya. Juga bisa mengambil kesimpulan jika telah diketahui jumlah bahan bakar yang dihabiskan oleh semua kendaraan musuh, sehingga bisa diperkirakan berapa jumlahnya dan apa jenisnya.

Kadang-kadang pasukan menyembunyikan berapa jumlah korban yang dialaminya tetapi ia lupa akan satu sisi yang bisa menjadi indikasinya, misalnya ucapan bela sungkawa di berbagai media massa, sehingga pihak lawan dapat menyimpulkan berapa kerugian yang dialaminya melalui ucapan bela sungkawa tersebut. Dalam hal ini Abu Sufyan benar-benar seorang pemimpin yang patut diingat dengan peristiwa dan kehati-hatiannya.

Demikian pula kaum Muslimin patut mengambil pelajaran dari kasus ini. Setelah menyadari bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya tengah memburu kafilah dan bisa saja mereka menguasainya dalam sesaat, Abu Sufyan segera mengambil dua langkah strategi.

Pertama, memilih Dhamdham bin Amir Al Ghifari sebagai utusan kepada Quraisy untuk meminta bala bantuan bagi penyelamatan kafilah mereka yang tengah dicegat oleh Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Kedua, mengubah jalur perjalanan kafilah yang berkemungkinan telah dicegat oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya menuju kearah pantai laut merah dan berjalan menyelamatkan kafilah melalui jalur Saiful Bahr hingga sampai ke Mekkah.

Dari langkah strategi pertama yang dilakukan Abu Sufyan dapat diambil sebuah pelajaran yang sangat penting, yaitu memilih seseorang yang sesuai untuk tugas yang sesuai. Manusia memiliki sejumlah potensi dan kemampuan yang beraneka ragam, ilmiah, manajemen, kepemimpinan, sosial, peperangan dan lain sebagainya. Seorang pemimpin yang sukses adalah orang yang mengetahui berbagai potensi dan kemampuan prajuritnya kemudian menata dan memfungsikan masing-masing pada posisi yang sesuai dan produktif, yang akan bermanfaat bagi kemaslahatan umum.

Abu Sufyan telah berhasil memilih Dhamdham bin Amir Al Ghifari untuk meminta bala bantuan Quraisy dan menggerakkannya dengan cepat demi melindungi keselamatan kafilah dagang. Lalu Dhamdham bin Amir Al Ghifari melakukan aksi yang menarik perhatian seisi kota Mekkah. Setiap orang yang melihat atau mendengarnya pasti akan terpesona. Ia datang kepada mereka dengan menggeser pelana untanya, memotong hidung untanya, merobek bajunya dari arah depan dan belakang dan masuk Kota Mekkah seraya berteriak lantang “Wahai Kaum Quraisy! Kafilah! Kafilah! Harta kalian yang dibawa Abu Sufyan terancam Muhammad dan para sahabatnya. Aku tidak melihat kecuali kalian harus segera menyusulnya. Selamatkan! Selamatkan!

*Source Kisah Islami 

Monday, July 26, 2010

Amar bin Thabit

0 comments

Suatu ketika tatkala Rasulullah s.a.w.sedang bersiap di medan perang Uhud, tiba-tiba terjadi hal yang tidak terduga. Seorang lelaki yang bernama Amar bin Thabit telah datang menemui Baginda s.a.w.. Dia rupanya ingin masuk Islam dan akan ikut perang bersama Rasulullah s.a.w.

Amar ini berasal dari Bani Asyahali. Sekalian kaumnya ketika itu sudah Islam setelah tokoh yang terkenal Saad bin Muaz memeluk Islam. Tetapi Amar ini enggan mengikut kaumnya yang ramai itu. Keangkuhan jahiliyyah menonjol dalam jiwanya, walaupun dia orang baik dalam pergaulan. Waktu kaumnya menyerunya kepada Islam, ia menjawab,

"Kalau aku tahu kebenaran yang aku kemukakan itu sudah pasti aku tidak akan mengikutnya." Demikian angkuhnya Amar.

Kaum Muslimin di Madinah pun mengetahui bagaimana keanehan Amar di tengah-tengah kaumnya yang sudah memeluk Islam. Ia terasing sendirian,hatinya sudah tertutup untuk menerima cahaya Islam yang terang benderang. Kini dalam saat orang bersiap-siap akan maju ke medan perang, dia segera menemui Rasulullah s.a.w. , menyatakan dirinya akan masuk Islam malah akan ikut berperang bersama angkatan perang di bawah pimpinan Rasulullah s.a.w. . Pedangnya yang tajam ikutdibawanya.

Rasulullah s.a.w.  menyambut kedatangan Amar dengan sangatgembira, tambah pula rela akan maju bersama Nabi Muhammads.a.w.. Tetapi orang ramai tidak mengetahui peristiwa aneh ini, kerana masing-masing sibuk menyiapkan bekalan peperangan. Di kalangan kaumnya juga tidak ramai mengetahui keIslamannya. Bagaimana Amar maju sebagai mujahid di medan peperangan. Dalam perang Uhud yang hebat itu Amar memperlihatkan keberaniannya yang luar biasa. Malah berkali-kali pedang musuh mengenai dirinya, tidak dipedulikannya. Bahkan dia terus maju sampai saatnya dia jatuh pengsan.

"Untuk apa ikut ke mari ya Amar?" Demikian tanya orang yang hairan melihatnya, sebab sangka mereka dia masih musyrik. Mereka kira Amar ini masih belum Islam lalau mengikut sahaja pada orang ramai.

Dalam keadaan antara hidup dan mati itu Amar lalu berkata, "Aku sudah beriman kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, lalu aku siapkan pedangku dan maju ke medan perang. Allah s.w.t. akan memberikan syahidah padaku dalam waktu yang tidak lamalagi."

Amar meninggal. Rohnya mengadap ke hadrat Illahi sebagai pahlawan syahid. Waktu hal ini diketahui Rasulullah s.a.w. , maka Baginda s.a.w. pun bersabda,: "Amar itu nanti akan berada dalam syurga nantinya."

Dan kaum Muslimin pun mengetahui akhir hayat Amar dengan penuh takjub, sebab di luar dugaan mereka. Malah Abu Hurairah r.a sahabat yang banyak mengetahui hadith Rasulullah s.a.w. berkata kaum Muslimin, "Cuba kamu kemukakan kepadaku seorang yang masuk syurga sedang dia tidak pernah bersyarat sekalipun juga terhadapAllah s.w.t.."

"Jika kamu tidak tahu orangnya." Kata Abu Hurairah r.a lagi, lalu ia pun menyambung, ujarnya, "Maka baiklah aku beritahukan, itulah dia Amar binThabit."

Demikianlah kisah seorang yang ajaib, masuk syurga demikian indahnya. Ia tidak pernah solat, puasa dan lain-lainnya seperti para sahabat yang lain, sebab dia belum memeluk Islam. Tiba-tiba melihat persiapan yang hebat itu, hatinya tergerak memeluk Islam sehingga ia menemui Rasulullah s.a.w.. Ia menjadi Muslim, lalu maju ke medan perang, sebagai mujahid yang berani. Akhirnya tewas dia dengan mendapat syahadah iaitu pengakuan sebagai orang yang syahid. Mati membela agama Allah s.w.t. di medan perang. Maka syurgalah tempat bagi orang yang memiliki julukansyahid. Rasulullah s.a.w. menjamin syurga bagi orang seperti Amar ini.


Sunday, July 25, 2010

Berbagai Nikmat Allah Kepada Kaum Mukminin pada Perang Badar


Peperangan yang disebut Al Qur`an  sebagai hari Furqan ini berlangsung dengan tadbir (pengaturan) dari Allah. Karena kedua pasukan (Pasukan Muslimin dan pasukan musyrikin) bertemu pada waktu yang sama dan di tempat yang sama, yaitu di mata air Badar, tanpa kesepakatan sebelumnya.

Allah berfirman “ Ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran) pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan” (QS Al Anfal ayat 42)

Kaum muslimin tidak keluar untuk berperang tetapi hanya mencegat kafilah, sedangkan jumlah awak kafilah juga sedikit yang bisa ditumpas dengan mudah. Seandainya mengetahui keberangkatan Quraisy beserta para tokohnya untuk berperang niscaya kaum Muslimin akan memperbanyak personel dan senjata dan tidak cukup dengan jumlah dan perlengkapan seadanya tersebut.

Sementara itu kaum Musyrikin keluar dengan sombong dan pamrih kepada manusia untuk berpesta daging sembelihan,meminum khamar,dan mendengarkan biduanita menyanyikan lagu-lagu hiburan, agar bangsa Arab mengetahui keberangkatan mereka sehingga mereka akan senantiasa takut kepada Quraisy sepanjang zaman. Dengan kata lain, keberangkatan mereka ini merupakan unjuk kekuatan militer untuk kepentingan opini massa dan propaganda.

Singkatnya, kedua kelompok itu keluar bukan untuk berperang. Terjadinya peperangan pada perkembangan berikutnya adalah merupakan hal yang insidentil dan diatur oleh Allah sedemikian rupa. Allah memudahkan semua faktor penyebab dan pendorong terjadinya peperangan yang membuat mereka melakukan hal yang diinginkan oleh Allah.

Allah SWT berfirman “  akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan” (QS Al Anfal ayat 42).

Yakni agar kelompok Mukminin yang berjumlah dan berperalatan sedikit,yang lapar,miskin dan telanjang

(Ketika memandang para sahabatnya, Rasulullah Muhammad SAW berdoa “Ya Allah, sesungguhnya mereka tak berkendaraan maka angkutlah mereka, mereka telanjang maka berilah mereka pakaian, mereka lapar maka kenyangkanlah mereka, dan mereka miskin maka cukupilah mereka dari karuniaMu)

itu mengalahkan kelompok Musyrikin yang berjumlah dan berperalatan banyak, yang hidup bermegah-megahan, yang tenggelam dalam kemaksiatan, kenistaan dan kerusakan.Agar kaum Mukminin meraih kemenangan dan sekaligus mendapatkan rampasan perang dengan merebut kafilah dagang. Masing-masing kaum mukminin telah pulang kembali dari perang Badar dengan membawa seekor atau dua ekor unta untuk tiga atau empat orang.

Orang yang berakal sehat tidak akan meragukan bahwa hal tersebut termasuk nikmat Allah terbesar kepada Kaum Mukminin, bahkan bukan hanya nikmat ini saja yang dikaruniakan Allah kepada Kaum Mukminin tetapi masih banyak lagi nikmat-nikmat Allah yang lain,diantaranya :

1.Rasa kantuk dan Tidur

Allah telah mengaruniakan rasa kantuk kepada pasukan mukminin sebelum pertempuran, sehingga mata mereka tertidur, fisik mereka beristirahat, dan jiwa mereka menjadi tenang. Ketika bangun seolah-olah mereka baru diciptakan dengan kejiwaan yang baru, mantap,tenang dan bersemangat menyala-nyala.

Sedangkan musuh mereka telah menghabiskan waktu mereka sebelum peperangan dengan senantiasa berjaga, letih dan lesu, sehingga mereka menjadi tegang, lemas, labil, loyo fisik dan tidak tenang. Hal ini semua menyebabkan kemampuan berperang mereka menjadi lemah.

Tentang nikmat rasa kantuk ini Allah berfirman mengingatkan karuniaNya kepada kaum mukminin:

“(Ingatlah) ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman dariNya” (QS Al Anfal ayat 11)

2. Menurunkan Hujan

Pasukan mukminin tidak memiliki persediaan air padahal mereka sangat memerlukannya untuk berwudhu dan menunaikan shalat yang diwajibkan atas mereka. Kebutuhan mereka terhadap air semakin terasa ketika sebagian mereka bangun dalam keadaan junub dan tidak mendapatkan air untuk bersuci. Kemudian syaitan pun mulai membisikkan kepada sebagian mereka, bagaimana kamu akan shalat dalam keadaan junub tanpa mandi?

Tetapi Allah memuliakan para hambaNya yang beriman dan berjihad, dengan menghapuskan bisikan keraguan dari jiwa mereka lalu Allah menurunkan hujan kepada mereka sehingga mereka bisa wudhu, mandi, minum,dan memenuhi tempat-tempat air mereka.

Allah berfirman mengingatkan kaum mukminin kepada karunia dan nikmat ini:

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu) (QS Al Anfal ayat 11).

Ada manfaat lain yang sangat penting dari penurunan hujan yang berkaitan dengan aspek militer, yaitu membuat gerak langkah pasukan semakin cepat untuk mengambil posisi yang strategis. Allah menurunkan hujan dalam ukuran sedang kepada kaum mukminin lalu membuat tanah semakin rekat dan gerak langkah mereka menjadi lebih mudah dan cepat, sehingga mereka bisa sampai ke Badar mendahului kaum musyrikin lalu memilih posisi yang cocok dan mengatur pertahanan di tempat tersebut.

Sedangkan hujan yang turun pada pihak Musyrikin sangat lebat lalu membuat tanah becek sehingga gerak langkah mereka menjadi lamban dan sulit. Hal ini menimbulkan pengaruh pada jiwa pasukan yang berperang. Karena pada saat ia kesulitn untuk bergerak ketempat yang di inginkan, ia melihat musuhnya bergerak dengan mudah dan cepat lalu memilih posisi yang diinginkannya.


3. Rasulullah SAW bermimpi melihat kaum musyrikin berjumlah sedikit

Allah memperlihatkan kepada Rasulullah dalam mimpinya jumlah personil dan perlengkapan kaum musyrikin menjadi sedikit lalu Rasulullah SAW menyampaikannya kepada para sahabat.Sebagaimana diketahui setiap muslim bahwa mimpi para Nabi adalah benar, maka ketika mendengar informasi tersebut dari mimpi Nabi Muhammad SAW mereka semakin termotivasi dan terdorong untuk memerangi kaum musyrikin.

Seandainya Allah memperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW jumlah kaum musyrikin sangat banyak kemudian Nabi Muhammad SAW menyampaikannya kepada para sahabat, niscaya kaum muslimin akan terguncang, akan berselisih pendapat dan takut berperang melawan mereka,lalu timbul perpecahan di kalangan mereka sehingga melemahkan kekuatan mereka dan mengurangi kewibawaan mereka terhadap musuh. Tetapi Allah menyelamatkan mereka dari perpecahan ini dengan memperlihatkan kepada RasulNya jumlah kaum musyrikin nampak sedikit.

Allah berfirman mengingatkan para hambaNya kepada nikmat dan karunia ini:

“Ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu” (QS Al Anfal ayat 43)

4. Kaum Muslimin melihat kaum Musyrikin berjumlah sedikit

Untuk menguatkan mimpi yang telah disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada kaum muslimin tersebut diatas, Allah memperlihatkan pula kepada kaum muslimin dalam keadaan terjaga (bukan lewat mimpi) bahwa jumlah kaum musyrikin sedikit, sehingga hal ini semakin menggerakkan dan mendorong mereka untuk memerangi kaum musyrikin.

Dari Abdullah bin Mas`ud r.a, ia berkata “Mereka telah dinampakkan sedikit dalam pandangan mata kami pada perang Badar hingga aku bertanya kepada seseorang yang ada disebelahku, apa kamu lihat mereka berjumlah tujuh puluh ?

Orang itu menjawab,” tidak, tetapi sertus”.

Hingga akhirnya kami berhasil menangkap salah seorang diantara mereka lalu kami menanyakannya. Ia menjawab “Kami berjumlah seribu”

5.Mendorong Kedua belah pihak untuk berperang

Agar Allah melaksanakan urusanNya, agar terjadi peperangan dan berlangsung pertempuran berdarah, maka Allah mendorong masing-masing pihak dengan yang lainnya dengan membuat musuhnya nampak sedikit dalam pandangannya.

Allah berfirman “Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian ketika kamu berjumpa dengan mereka, berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkanNya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (QS Al Anfal ayat 44)

Ada hikmah lain dari ditampakkannya sedikit jumlah kaum muslimin di mata kaum Musyrikin sebelum pertempuran ini, yaitu bila mereka menganggap sedikit jumlah kaum muslimin pasti mereka akan menganggap enteng dan tidak optimal dalam persiapan dan kehati-hatian, sehingga hal itu menjadi sebab keunggulan dan kemenangan kaum muslimin atas mereka.

6.kaum muslimin masih tetap melihat sedikit jumlah kaum musyrikin

Diantara nikmat Allah kepada kaum Mukminin di Badar pada permulaan peperangan ialah bahwa kaum muslimin masih tetap melihat sedikit jumlah kaum musyrikin, sedangkan Allah telah mengubah kondisi kaum musyrikin dengan menampakkan jumlah kaum muslimin menjadi banyak dalam penglihatan mata mereka hingga dua kali lipat jumlah kaum musyrikin. Sehingga hal ini semakin menggerakkan kaum muslimin untuk memerangi kaum musyrikin, menguatkan jiwa,hati dan maknawiyah mereka. Dan pada saat yang sama membuat kaum musyrikin menjadi gentar,karena merasa tidak ada kemampuan untuk memerangi kaum mukminin yang jumlah personil dan perlengkapan mereka jauh lebih banyak.

Allah berfirman mengingatkan nikmat ini kepada para hambaNya:

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan segolongan yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuanNya siapa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati” (QS Ali Imran ayat 13)

7. Menurunkan bala bantuan Malaikat kepada kaum Mukminin

Allah SWT berfirman “(ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankanNya bagimu”Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut” (QS Al Anfal ayat 9)

Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa seorang pemimpin dan para prajuritnya harus memperbanyak doa dalam peperangan dan meminta bantuan kepada Allah. Nabi Muhammad saw berdoa kepada Allah di Badar, diantara doanya ialah “Ya Allah tunaikanlah janjiMu kepadaku. Ya Allah bantuanMu yang telah Engkau janjikan”

Tidak lama kemudian Rasulullah SAW berkata “Bergembiralah wahai Abu Bakar, golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”.

Kemudian Nabi saw menunjuk beberapa tempat kematian para tokoh Quraisy. Nabi saw tidak menyebutkan tempat kematian seseorang kecuali orang itu mati di tempat yang telah disebutkan

8. Memasukkan rasa gentar ke dalam hati orang-orang Kafir

Allah swt berfirman “Kelak Aku akan jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir” (QS Al Anfal ayat 12)
 
Allah telah memenuhi hati mereka dengan rasa gentar terhadap kaum mukminin hingga mereka panik dan berpencar ke segala arah, lalu kaum mukminin dengan mudah memenggal kepala mereka dengan arahan langsung dari Allah:

“Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya dan barangsiapa menentang Allah dan RasulNya maka sesunggunya Allah amat keras siksaNya” (QS Al Anfal ayat 12-13)

Kepala-kepala yang busuk dan otak-otak yang kosong dari kebaikan, yang merancang berbagai maker jahat untuk melenyapkan kebaikan dengan cara membunuh Rasul pembawa kebaikan, Muhammad saw, mengusir kaum mukminin yang tidak berdosa dan merusak citra mereka dengan membuat berbagai propaganda palsu dan kesesatan yang nyata. Kepala-kepala seperti ini sudah tiba saatnya untuk dipenggal dan dipisahkan dari jasadnya.

Tangan-tangan yang telah piawai menimpakan berbagai siksaan kepada kaum mukminin dan mukminat di Mekkah itu, telah tiba saatnya untuk dipotong menjadi beberapa bagian sesuai dengan penyiksaan yang pernah dilakukannya terhadap kaum mukminin dan mukminat yang tidak bersalah. Memang telah tiba saatnya untuk dipenggal atau dipotong dan pemenggal atau pemotongnya adalah orang yang pernah merasakan bakaran apinya dan pukulan-pukulan penyiksaannya.

Misalnya Bilal bin Rabah r.a yang membunuh Umaiyyah bin Khalaf sedangkan Abdullah bin Mas`ud r.a yang menebas kepala Abu Jahal.

9. Menaburkan Pasir

Allah mewahyukan kepada RasulNya pada awal pertempuran agar mengambil segenggam pasir lalu menaburkannya kearah kaum musyrikin. Kemudian Rasulullah SAW menghadap kearah orang-orang Quraisy dan menaburkannya seraya berkata “Semoga buruklah wajah-wajah mereka”.

Kemudian Allah menyampaikan butir-butir pasir itu ke semua mata pasukan Musyrikin lalu masing-masing mereka sibuk mengurusi matanya dan mengabaikan pertempuran yang tengah mereka hadapi sehingga mereka menjadi makanan empuk bagi pedang-pedang pasukan muslimin yang menebas leher-leher mereka.
Taburan pasir itu memang dilakukan oleh Rasulullah SAW tetapi yang menyampaikannya ke semua mata pasukan musyrikin adalah Allah SWT.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang Mukmin dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al Anfal ayat 17)

Sesungguhnya nikmat-nikmat yang dilimpahkan Allah kepada RasulNya dan para sahabatnya ini merupakan faktor kemenangan kaum muslimin dan kekalahan kaum musyrikin di Badar. Namun hal ini tidak hanya terbatas pada masa Rasulullah SAW  dan bukan merupakan kekhususannya. Dengan demkian maka nikmat-nikmat dan faktor-faktor kemenangan ini bisa saja terjadi pada setiap zaman dan kaum yang telah menolong agama Allah tanpa memandang ras, warna kulit, bangsa, bahasa atau faktor-faktor kemanusiaan lainnya.

Allah SWT berfirman “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad ayat 7)

Karena itu kaum muslimin hari ini harus menolong agama Allah pada diri,keluarga,masyarakat dan berbagai muamalat mereka dengan menjalankan syariatNya dan mengumumkan jihad di jalanNya di bawah bendera Laa ilaha Illallah Muhammad Rasulullah.

*Source Kisah Islami

Tuesday, June 22, 2010

Kematian Saidina Hamzah Singa Allah

0 comments

KETIKA peperangan begitu sengit di antara tentera Muslimin dengan tentera Quraisy, semangat tentera-tentera Muslimin semakin memuncak sehingga mereka terus menerkam ke arah tentera Quraisy bagaikan ombak melanda pantai sambil melaungkan amit, amit iaitu “matilah! Matilah!”

Pada masa yang sama, kelihatan Hamzah bin Abdul Muttalib sedang melawan dan menerkam semua serangannya bagaikan seekor singa yang garang. Beliau meluru ke tengah-tengah barisan tentera Quraisy dalam gerak kilat yang tiada bandingannya. Tentera-tentera Quraisy pula mengelak daripada libasan pedangnya umpama daun-daun kering yang dipukul oleh angin.

Ketika Hamzah sedang bergelut dengan pihak musuh, tiba-tiba datang kepadanya Wahsyi bin Harb iaitu budak suruhan Jabir bin Mut’im secara sembunyi-sembunyi untuk membunuh beliau. Bapa saudara Jabir telah dibunuh dalam Perang Badar. Oleh yang demikian, Jabir mengupah Wahsyi dan dijanji akan dibebaskan sekiranya berjaya membunuh Hamzah kerana ingin menuntut bela ke atas kematian bapa saudaranya itu.

Wahsyi menyertai perang itu dengan tekad untuk membunuh Sayidina Hamzah. Dia mengekori Hamzah dicelah-celah orang ramai. Wahsyi bersembunyi di sebalik batu di tepi sepohon kayu. Ketika Sayidina Hamzah sibuk berlawan dengan tentera-tentera Quraisy, Wahsyi lalu mengambil kesempatan melontarkan lembingnya ke arah Sayidina Hamzah secara curi-curi.

Lembing itu terkena dada Hamzah hingga menembusi badannya. Beliau cuba menerpa ke arah Wahsyi tetapi rebah tersungkur. Setelah Hamzah menemui ajalnya, datanglah Hindun binti Utbah iaitu isteri Abu Sufyan pemimpin tentera Quraisy lalu menoreh dada Hamzah untuk mengeluarkan hati dan jantungnya yang masih panas dan bergerak-gerak itu, Hindon cuba menggigit hati dan jantung Saidina Hamzah untuk melepaskan sakit hatinya.

Setelah perang selesai dan kaum Quraisy telah kembali ke Mekah, Rasulullah menghadapi kemurungan dan kesedihan apabila melihat keadaan jenazah bapa saudaranya. Lalu baginda meminta Allah melaknat pemuka-pemuka Quraisy itu.

Sesudah baginda memohon laknat untuk orang-orang itu, datanglah ayat daripada Allah yang berbunyi: “Tiada satu pun bagimu sama ada Allah hendak menerima taubat mereka, ataupun Dia hendak mengazab mereka, lantaran mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”

Baginda dan orang-orang Islam yang lain juga berazam untuk mencacatkan setiap mayat tentera Quraisy dalam peperangan akan datang sebagai membalas dendam. Sehubungan dengan itu, Allah telah menurunkan Surah an-Nahl di atas.

*Source Persada ilmu


Rahsia Pedang Salahudin Al-Ayubi

0 comments

Sejauh mana kita semua mengenali sudut hidup pahlawan Islam terunggul lewat peperangan salib, Salahuddin Al-Ayyubi? Beliau sangat terkenal sebagai sosok kukuh yang berjaya menghantar rasa gerun dan hormat kepada tentera-tentera musuh. Lebih manis lagi, peribadi inilah yang telah memimpin pembebasan Tanah Suci Ketiga umat Islam daripada cengkaman Kristian hampir seratus tahun lamanya. 

Keistimewaan Salahuddin Al-Ayubi telah dibongkar oleh Prof. Dr. Peter Paufler dan kumpulannya di Teknikal Universiti Dresden, Jerman apabila mereka menemui TIUB KARBON NANO (carbon nanotube) di dalam pedang yang digunakan oleh Salahuddin Al-Ayubi dan tentera-tentera Islam dalam peperangan salib.Carbon nanotube inilah yang telah menjadikan pedang-pedang pejuang Islam sangat istimewa; SANGAT TAJAM tetapi MUDAH LENTUR. Penemuan ini telah diterbitkan oleh jurnal Nature (antara jurnal saintifik paling berpengaruh di dunia) tahun 2006: www.nature.com.

* (nota: perlu langganan pembaca) atau sila rujuk ulasan yang berkaitan oleh Royal Society of Chemistry, UK di: www.rsc.org.

Kunci kepada teknologi nano pedang mujahidin Islam ini terletak kepada teknik pembuatannya yang unik. Besi mentah dari Damsyik, Syria telah dicampur dengan wootzdari India yang membekalkan peratusan unsur Karbon (Carbon) yang sesuai lalu menukarkan campuran bahan-bahan tadi kepada cementite yang bersifat rapuh. Cementite seterusnya dibakar pada suhu amat tinggi dan ditambah dengan unsur-unsur seperti Kromium, Mangan,Kobalt dan beberapa unsur lain yang melengkapkan sifat-sifat sebilah pedang setiawan: TAJAM lagi LENTUR. Sayang sekali, teknologi ini hilang begitu sahaja menginjak kurun ke-18 seiring dengan kepupusan bijih besi dan unsur-unsur penguat pedang tadi. 

Tentera-tentera salib terkedu saat-saat “perkenalan” mereka dengan pedang nano pejuang Islam! Pedang nano Salahuddin Al-Ayyubi yang berwarna kebiru-biruan dengan larik-larik mengufuk di sepanjang bilahnya telah “mengajar” pedang lebar Inggeris kepunyaan Raja Richard I (kepala tentera salib) akan erti kehebatan teknologi Islam pada zaman itu seperti yang dihikayatkan oleh Sir Walter Scott di dalam bukunya “The Talisman”. Perumpamaan yang dilontarkan ialah pedang Salahuddin ini mampu membelah dua kain sutera di udara begitu sahaja manakala jika ia ditetakkan kepada batu pejal, magnitud ketajamannya sama sekali tidak terjejas! 

Masih tercari-cari model untuk berjaya dalam hidup? Teladanilah kualiti Salahuddin al-Ayyubi. Pahlawan agama ini malah seorang ilmuwan dan ahli ibadat; sangat menjaga solat berjemaah, gemar mendengar hadis Rasulullah SAW, hidup zuhud, pemurah dan ceria tetapi gagah berani di medan perang. Riwayat-riwayat mengenai Salahuddin al-Ayyubi boleh dikutip, di antaranya menerusi buku Al-Bidayah wa Al-Nihayah karangan Imam Ibnu Kathir dan Siyar A’lam Al-Nubala’ karya Imam Al-Zahabi. Sungguh! Pedang nano hanyalah sebilah besi biasa dan tidak bermakna melainkan ia berada di tangan hamba Allah yang berkualiti seperti Salahuddin Al-Ayyubi!

*Source Persada ilmu 

Thursday, May 20, 2010

Doa Mustajab

0 comments
"Ya Allah, jangan kembalikan aku ke keluargakau, dan limpahkanlah kepadaku kesyahidan ."

Doa itu keluar dari mulut `Amru bin Jumuh, ketika ia bersiap-siap mengenakan baju perang dan bermaksud berangkat bersama kaum Muslimin ke medan Uhud. Ini adalah kali pertama bagi `Amru terjun ke medan perang, karena dia kakinya pincang.

Didalam Al-Quran disebutkan: " Tiada dosa atas orang-orang buta, atas orang-orang pincang dan atas orang sakit untuk tidak ikut berperang ." (QC. Al-Fath:17)

Karena kepincangannya itu maka `Amru tidak wajib ikut berperang, di samping keempat anaknya telah pergi ke medan perang. Tidak seorang pun menduga `Amru dengan keadaannya yang seperti itu akan memanggul senjata dan bergabung dengan kaum Muslimin lainnya untuk berperang.

Sebenarnya, kaumnya telah mencegah dia dengan mengatakan: "Sadarilah hai `Amru, bahwa engkau pincang. Tak usahlah ikut berperang bersama Nabi saw."

Namun `Amru menjawab: "Mereka semua pergi ke surga, apakah aku harus duduk-duduk bersama kalian?"

Meski `Amru berkeras, kaumnya tetap mencegahnya pergi ke medan perang. Karena itu `Amru kemudian menghadap Rasulullah Saw dan berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah. Kaumku mencegahku pergi berperang bersama Tuan. Demi Allah, aku ingin menginjak surga dengan kakiku yang pincang ini."

"Engkau dimaafkan. Berperang tidak wajib atas dirimu." Kata Nabi mengingatkan.

"Aku tahu itu, wahai Rasulullah. Tetapi aku ingin berangkat ke sana." Kata `Amru tetap berkeras.

Melihat semangat yang begitu kuat, Rasulullah kemudian bersabda kepada kaum `Amru: "Biarlah dia pergi. Semoga Allah menganugerahkan kesyahidan kepadanya."

Dengan terpincang-pincang `Amru akhirnya ikut juga berperang di barisan depan bersama seorang anaknya. Mereka berperang dengan gagah berani, seakan-akan berteriak: "Aku mendambakan surga, aku mendambakan mati: sampai akhirnya ajal menemui mereka.

Setelah perang usai, kaum wanita yang ikut ke medan perang semuanya pulang. Di antara mereka adalah "Aisyah. Di tengah perjalanan pulang itu `Aisyah melihat Hindun, istri `Amru bin Jumuh sedang menuntun unta ke arah Madinah.

`Aisyah bertanya: "Bagaiman beritanya?"

"Baik-baik , Rasulullah selamat Musibah yang ada ringan-ringan saja. Sedang orang-orang kafir pulang dengan kemarahan, "jawab Hindun.

"Mayat siapakah di atas unta itu?"

"Saudaraku, anakku dan suamiku."

"Akan dibawa ke mana?"

"Akan dikubur di Madinah."

Setelah itu Hindun melanjutkan perjalanan sambil menuntun untanya ke arah Madinah. Namun untanya berjalan terseot-seot lalu merebah.

"Barangkali terlalu berat," kata `Aisyah.

"Tidak. Unta ini kuat sekali. Mungkin ada sebab lain." Jawab Hindun.

Ia kemudian memukul unta tersebut sampai berdiri dan berjalan kembali, namun binatang itu berjalan dengan cepat ke arah Uhud dan lagi-lagi merebah ketika di belokkan ke arah Madinah. Menyaksikan pemandangan aneh itu, Hindun kemudian menghadap kepada Rasulullah dan menyampaikan peristiwa yang dialaminya: "Hai Rasulullah. Jasad saudaraku, anakku dan suamiku akan kubawa dengan unta ini untuk dikuburkan di Madinah. Tapi binatang ini tak mau berjalan bahkan berbalik ke Uhud dengan cepat."

Rasulullah berkata kepada Hindun: "Sungguh unta ini sangat kuat. Apakah suamimu tidak berkata apa-apa ketika hendak ke Uhud?"

"Benar ya Rasulullah. Ketika hendak berangkat dia menghadap ke kiblat dan berdoa: "Ya Allah, janganlah Engkau kembalikan aku ke keluargaku dan limpahkanlah kepadaku kesyahidan."

"Karena itulah unta ini tidak mau berangkat ke Medinah. Allah SWT tidak mau mengembalikan jasad ini ke Madinah" kata beliau lagi.

"Sesungguhnya diantara kamu sekalian ada orang-orang jika berdoa kepada Allah benar-benar dikabulkan. Diantara mereka itu adalah suamimu, `Amru bin Jumuh," sambung Nabi.

Setelah itu Rasulullah memerintahkan agar ketiga jasad itu dikuburkan di Uhud. Selanjutnya beliau berkata kepada Hindun: "Mereka akan bertemu di syurga. `Amru bin Jumuh, suamimu; Khulad, anakmu; dan Abdullah, saudaramu."

"Ya Rasulullah. Doakan aku agar Allah mengumpulkan aku bersama mereka,: kata Hindun memohon kepada Nabi.

*Source Kisah-Kisah Islam 


Friday, January 8, 2010

Kemunculan Panglima Shalahuddin

0 comments


Jatuhnya kota suci Baitul Maqdis ke tangan kaum Salib telah mengejutkan para pemimpin Islam. Mereka tidak menyangka kota suci yang telah dikuasainya selama  lebih 500 tahun itu boleh terlepas dalam sekelip mata. Mereka sedar akan kesilapan mereka kerana berpecah-belah .

Para ulama telah berbincang dengan para Sultan, Emir dan Khalifah agar mengambil berat dalam perkara ini. Usaha mereka berhasil, Setiap penguasa Negara Islam itu bersedia bergabung tenaga untuk merampas balik kota suci tersebut. Di antara pemimpin yang paling gigih dalam usaha menghalau tentera Salib itu ialah Imamuddin Zanki dan diteruskan oleh anaknya Emir Nuruddin Zanki dengan dibantu oleh panglima Asasuddin Syirkuh.

Setelah hamper empat puluh tahun kaum Salib menduduki Baitul Maqdis , Shalahuddin Al-Ayubi baru lahir kedunia, yakni pada tahun 1138 Masihi.Keluarga Shalahuddin taat beragama dan berjiwa pahlawan. Ayahnya, Najmuddin Ayyub adalah seorang yang termahsyur dan beliau pulalah yang memberikan pendidikan  awal kepada Shalahuddin.

Selain itu, Shalahuddin juga mendapatb pendidikan dari bapasaudaranya Asasuddin Syirkuh seorang negarawan dan penglima perang Syria  yang telah berhasil mengalahkan tentera Salibsama ada di Syria ataupun di Mesir. Dalam setiap peperangan yang dipimpin olehpanglima Asasuddin, Shalahuddin sentiasa ikut sebagai tentera pejuang sekalipun usianya masih muda.

Pada tahun 549 H/1154 M, panglima Asasuddin Syirkuh memimpintenteranya merebut dan menguasai Damsyik, Shalahuddin yang ketika itun baruberusia 16 tahun turut serta sebagai pejuang . Pada tahun 558 H/1163 Masihi, Panglima Asasuddin membawa Shalahuddin Al-Ayubi yang ketika itu berusia 25 tahun untuk menundukkan Daulat Fatimiyah yang diperintah oleh aliran Syiah Islamiliyah  yang semakin lemah. Usahanya berhasil .

Khalifah Daulat Fatimiyah terakhir  Adhid Lidinillah dipaksa oleh Asasuddin Syirkuh untuk menandatangani perjanjian . Akan tetapi, Wazir  besar Shawar merasa cemburu melihat Syirkuh semakin popular dikalangan istana dan rakyat. Dengan senyap-senyap dia pergi ke Baitul Maqdis dan meminta bantuan dari pasukan salib untuk menghalau Syirkuh daripada berkuasa di Mesir.

Pasukan salib yang dipimpin oleh King Almeric dari Jurussalem menerima baik jemputan itu. Maka terjadilah pertempuran antara pasukan Asasuddin dengan King Almeric yang berakhir dengan kekalahan Asasuddin. Setelah menerima syarat-syarat damai dari Kaum Salib , panglima Asasuddin dan Shalahuddin dibenarkan balik ke Damsyik.

Kerjasama wazir besar Shawar dengan orang kafir itu telah menimbulkan kemarahan Emir Nuruddin Zanki dan para pemimpin Islam lainnya termasuk Baghdad. Lalu dipersiapkannya tentera yang besar yang tetap dipimpin oleh Syirkuh dan Shalahuddin Al-Ayubi untuk menghukum si pengkhianat Shawar. King Almeric terburu-buru menyiapkan pasukannya untuk melindungi Wazir Shawarsetelah mendengar kemaraan pasukan Islam. Akan tetapi Panglima Syirkuh kali inibertindak lebih pantas dan berhasil membinasakan pasukan King Almeric  dan menghalaunya dari Mesir  dengan aib sekali.

Panglima Syirkuh dan Shalahuddin terus mara ke ibu kota kaherah dan mendapat tentangan dari pasukan Wazir Shawar. Akan tetapi pasukanShawar hanya dapat bertahan sebentar saja, dia sendiri melarikan diri dan bersembunyi . Khalifah Al-Adhid Lidnillah terpaksa menerima dan menyambut kedatangan panglima  Syirkuh buat kali kedua.

Suatu hari panglima Shalahuddin Al-Ayyubi berziarah kekuburan wali Allah di Mesir ternyata Wazir besar Shawar dijumpai bersembunyi disitu. Shalahuddin segera menagkap Shawar, dibawa ke istana dan kemudian dihokum bunuh. Khalifah Al-Adhid melantik panglima Asasuddin Syirkuh menjadi Wazir Besar menggantikan Shawar . Wazir baru itu segera melakukan perbaikan dan pembersihan pada setia institusi kerajaan secara berperingkat . Sementara anak saudaranya Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi diperintahkan membawa pasukannya mengadakan pembersihan di kota-kota sepanjang sungai Nil sehingga Assuan disebelah utara dan Bandar-bandar lain termasuk Bandar perdagangan Iskan dariah.

*Source Mingguan Perdana


Thursday, January 7, 2010

Khalifah Gila

0 comments

Memang betul, Khalifah Umar bin Khathab telah berubah ingatan. Banyak yang melihatnya dengan mata kepala sendiri. Barangkali karena Umar di masa mudanya sarat dengan dosa, seperti merampok, mabuk-mabukkan, malah suka mengamuk tanpa berperi-kemanusiaan, sampai orang tidak bersalah banyak yang menjadi korban. Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya sehingga ia ditimpa penyakit jiwa.

Dulu Umar sering menangis sendirian sesudah selesai menunaikan salat. Dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, juga sendirian. Tidak ada orang lain yang membuatnya tertawa. Bukankah hal itu merupakan isyarat yang jelas bahwa Umar bin Khathab sudah gila?

Abdurrahman bin Auf, sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling akrab,merasa tersinggung dan sangat murung mendengar tuduhan itu. Apalagi, hampir semua rakyat Madinah telah sepakat menganggap Umar betul-betul sinting. Dan,sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi memimpin umat atau negara.

Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melakukan salat Jum'at yang lalu, ketika sedang berada di mimbar untuk membacakan khotbahnya, sekonyong-konyong Umar berseru, "Hai sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Jemaah pun geger. Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khotbah yang disampaikan.

"Wah, khalifah kita benar-benar sudah gila," gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum salat Jumat hari itu.

Tetapi Abdurrahman tidak mau bertindak gegabah, ia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka didatanginya Umar, dan ditanyainya,"Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khotbah engkau seraya pandangan engkau menatap kejauhan?"

Umar dengan tenang menjelaskan, "Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Suriah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala aku sedang berkhotbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit dibelakang mereka. Maka aku berseru: bukit itu,bukit itu, bukit itu!"

Setengah tidak percaya, Abdurrahman megerutkan kening. "Lalu, mengapa engkau dulu sering menangis dan tertawa sendirian selesai melaksanakan salat fardhu?" tanya Abdurrahman pula.

Umar menjawab, "Aku menangis kalau teringat kebiadabanku sebelum Islam. Aku pernah menguburkan anak perempuanku hidup-hidup. Dan aku tertawa jika teringat akan kebodohanku. Kubikin patung dari tepung gandum, dan kusembah-sembah seperti Tuhan."

Abdurrahman lantas mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar. Ia belum bisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi. Ataukah hal itu justru lebih membuktikan ketidak warasannya sehingga jawabannya pun kacau balau? Masak ia dapat melihat pasukannya yang terpisah amat jauh dari masjid tempatnya berkhotbah?

Akhirnya, bukti itu pun datang tanpa dimintanya. Yaitu manakala sariah yang kirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binar meskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas-bekas luka yang diderita mereka. Mereka datang membawa kemenangan. Komandan pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakat Madinah tentang dasyatnya peperangan yang dialami mereka.

"Kami dikepung oleh tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat. Lawan secara beringas menghantam kami dari berbagai jurusan. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah saat salat Jumat yang seharusnya kami kerjakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuah seruan gaib yang tajam dan tegas: "Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Tiga kali seruan tersebut diulang-diulang sehingga kami tahu maksudnya. Serta-merta kami pun mundur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapi serangn tentara lawan dari satu arah, yakni dari depan. Itulah awal kejayaan kami."

Abdurrahman mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Begitu pula masyarakat yang tadinya menuduh Umar telah berubah ingatan. Abdurrahman kemudian berkata, "Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalah iadat. Sebab ia dapat melihat sesuatu yang indera kita tidak mampu melacaknya"

Dari buku Kisah Teladan - K.H. Abdurrahman Arroisi

*Source Kisah-Kisah Islam.


ShareThis

 

Kisah Kisah Islam Copyright © 2011 | Template created by O Pregador | Powered by Blogger