skip to main | skip to sidebar


Showing posts with label Sufi. Show all posts
Showing posts with label Sufi. Show all posts

Monday, September 5, 2011

Gara-Gara Seekor Ular

0 comments

Disebutkan oleh Al-Qadhi Abu Ali At-Tanukhi, dia mengatakan: Dahulu kala hiduplah seorang lelaki yang terkenal zuhud dan kuat ibadatnya, dialah Labib Al-Abid. Dia datang ke pintu gerbang negeri Syam dari arah barat kota Baghdad, sebuah tempat yang menjadi laluan banyak orang.

Labib kemudian berkata kepadaku: Dahulu aku adalah seorang hamba Rom, milik salah seorang tentara. Dialah yang merawat dan mengajarku cara bermain pedang sehingga aku pun mahir memainkannya sehingga merasa benar-benar perkasa. Demi menjalin persaudaraan dan untuk mengawal hartanya, walaupun aku telah dimerdekakan sepeninggalnya, aku kemudian menikahi isterinya. Aku yakin, Allah SWT. telah mengetahui bahawa apa yang ku perbuat itu tiada lain sekadar untuk menjaganya. Aku tinggal bersamanya beberapa tahun.

Selama hidup berumah tangga dengannya, suatu hari kulihat seekor ular menyelinap dalam bilik kami. Aku lalu memegang ekornya untuk ku bunuh, tetapi ular itu justru berbalik menyerangku dan berhasil menggigit tanganku hingga menjadi lumpuh. Setelah tanganku yang satu mengalami kelumpuhan, selang beberapa waktu kemudian tanganku yang lain menyusul lumpuh pula tanpa sebab- sebab yang jelas. Seterusnya kedua kakiku juga lumpuh, mataku menjadi buta dan terakhir aku menjadi bisu. Kemalangan ini ku alami selama satu tahun.

Demikianlah keadaanku yang sangat buruk, kecuali hanya telingaku yang masih mampu menangkap segala pembicaraan. Aku tergeletak tiada berdaya: Aku selalu diberi minum saat aku merasa tidak dahaga, sementara itu dibiarkan kehausan saat aku kenyang, dan dibiarkan ketika aku merasa lapar. Setelah berjalan satu tahun, datanglah seorang wanita menjumpai isteriku.

Dia bertanya kepada isteriku, Bagaimana keadaan Abu Ali Labib? Dia tidak hidup dan tidak juga mati, sehingga hal ini membuatku bimbang dan hatiku menjadi sangat sedih, jawab isteriku.

Mendengar hal itu, dalam hatiku lalu mengadu kepada Allah dan berdoa. Dalam keadaan menderita sakit yang seperti ini sedikit pun dalam jiwaku tidak merasakan sesuatu.

Pada suatu hari, aku merasa seakan-akan menerima pukulan sangat keras yang hampir membuatku binasa. Hal itu terus berlangsung hingga tengah malam atau mungkin sudah lewat tengah malam, kemudian sedikit demi sedikit rasa sakit ku ini mula hilang, akhirnya aku dapat tidur.

Keesokan hari ketika terjaga dari tidur, kurasakan tangan ini telah berada di atas dada, padahal selama ini tergeletak tidak berdaya di atas tempat tidur kerana mengalami kelumpuhan. Ku cuba untuk bergerak dan ternyata berjaya. Melihat hal ini, aku merasa gembira dan yakin bahawa Allah akan memberikan kesembuhan.

Ku cuba menggerakkan tanganku yang lain dan ternyata dapat kugerakkan pula. Aku juga mencuba memegang salah satu kakiku dan berhasil memegangnya, dan ku kembalikan tanganku pada keadaan semula, hal ini ku lakukan pula pada tanganku yang lain. Selepas itu aku ingin mencuba membalikkan tubuhku dan ternyata dapat kubalikkan dan bahkan aku mampu duduk lagi. Kemudian, aku bermaksud untuk berdiri dan ternyata aku juga mampu melakukannya, lalu ku coba lagi turun dari pembaringan, yang selama ini tubuhku terbaring. Tempat tidurku itu berada di sebuah bilik yang ada di rumahku.

Dalam kegelapan aku mencoba untuk mencari pintu bilik dengan meraba-raba dinding bilik, sebab mataku belum dapat melihat dengan terang. Akhirnya aku berhasil mencapai teras rumah dan di sana aku dapat memandang langit dan bintang-bintang yang berkedip. Kerana luapan kegembiraan yang tiada terkira hampir menghentikan detak jantungku, dan segera terlontar dari bibirku rasa syukur kepada-Nya: Wahai Zat Yang Maha Kaya Kebaikan-Nya! Hanya Milik-Mulah segala puji.

Setelah itu aku pun berteriak memanggil isteriku dan dia segera datang menemuiku seraya berkata, Abu Ali? Sekarang inilah aku menjadi Abu Ali yang sebenarnya. Dan kini nyalakanlah lampu, kataku kepadanya.

Isteriku segera pula menyalakan lampu, dan kemudian kuperintahkan kepadanya untuk mengambilkan sebuah gunting. Dia pun datang dengan membawa gunting yang ku maksud, dengan gunting itulah kupotong kumisku.

Isteriku lalu berkata kepadaku, Apa yang hendak kamu lakukan? Bukankah teman-temanmu telah mencelamu?

Selepas ini, aku tidak akan melayani seorang pun kecuali hanya Tuhanku semata-mata, jawabku. Seterusnya kugunakan seluruh waktuku untuk menghadap kepada Allah SWT. dan tekun beribadat. Al-Qadhi Abu Ali meneruskan ceritanya kembali, bahawa Abu Ali Labib Al Abib adalah seorang yang mustajab doanya. 
*Source Kisah-Kisah Islam


Wednesday, April 20, 2011

Tangisan Isam Bin Yusuf

0 comments

Dikisahkan bahwa ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk sembahyang nya. Namun demikian dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasanya kurang khusyuk.

Pada suatu hari Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Asam dan bertanya: "Wahai Aba Abdurrahman (Nama gelaran Hatim), bagaimanakah caranya tuan sembahyang?"

Berkata Hatim: "Apabila masuk waktu sembahyang, aku berwuduk zahir dan batin."

Bertanya Isam: "Bagaimana wuduk batin itu?"

Berkata Hatim: "Wuduk zahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wuduk dengan air.

Sementara wuduk batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara:

* Bertaubat.

* Menyesali akan dosa yang telah dilakukan.

* Tidak tergila-gila dengan dunia.

* Tidak mencari atau mengharapkan pujian dari manusia

* Meninggalkan sifat bermegah-megahan.

* Meninggalkan sifat khianat dan menipu.

* Meninggalkan sifat dengki."

Seterusnya Hatim berkata: "Kemudian aku pergi ke Masjid, ku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku. Dan kubayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian Shiratul Mustaqim' dan aku menganggap bahwa sembahyangku kali ini adalah sembahyang terakhir bagiku (kerana aku rasa akan mati selepas sembahyang ini), kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.

Setiap bacaan dan doa dalam sembahyang ku faham maknanya, kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawaduk (merasa hina), aku bertasyahud (tahiyat) dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersembahyang selama 30 tahun.

Apabila Isam mendengar menangislah ia sekuat-kuatnya kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim. 

*Source Kisah-Kisah Islam


Saturday, April 2, 2011

Pahitnya Obat

0 comments

Seorang raja memiliki istri yang sangat ia cintai. Sayang, istrinya tidak bisa memberinya keturunan. Banyak tabib telah berusaha mengobatinya, namun tidak berhasil. Ia diberitahu bahwa ada seorang tabib yang sangat mahir di suatu tempat tertentu.

"Panggillah ia kemari," titah sang raja.

Tak beberapa lama datanglah sang tabib ke hadapan raja.

"Jika kalian ingin aku mengobatinya, maka biarkanlah aku berdua dengan sang permaisuri, tutuplah dengan hijab," kata sang tabib. Mereka kemudian meninggalkan kedua orang itu.

"Setelah ku amati bukuku, ternyata ajalmu telah dekat. Sisa umurmu tak cukup untuk mengandung dan melahirkan. Umurmu hanya tinggal 40 hari lagi," kata sang tabib kepada permaisuri raja.

Setelah merasa cukup berbicara dengannya, sang tabib kemudian mohon diri. Sejak pertemuannya dengan sang tabib, nafsu makan permaisuri sangat berkurang. Makan siang dihidangkan, namun ia tidak memakannya. Makan malam disiapkan, ia juga tidak menyentuhnya. Raja khawatir dengan keadaan istrinya.

"Apa yang terjadi denganmu?" tanya raja.

"Orang bijak itu mengatakan bahwa umurku tinggal 40 hari," jelas istrinya.

Permaisuri lalu menceritakan semua yang dikatakan oleh sang tabib. Semakin hari tubuh sang permaisuri semakin kurus. Empat puluh hari lewat sudah, tetapi ia tidak mati juga. Raja kemudian mengutus orang untuk mengundang sang tabib.

"Empat puluh hari telah berlalu, namun istriku tetap hidup," kata raja kepada sang tabib.

"Sesungguhnya aku tidak tahu kapan ajalku tiba, apa lagi ajal orang lain. Namun saat itu, aku tidak menemukan obat yang lebih manjur dari berita yang menakutkannya. Istrimu selalu makan yang nikmat-nikmat sehingga lemak menutup rahimnya. Sekarang temuilah dia dan kumpullah dengannya. Insyaa Allah dia akan hamil."

Tak lama kemudian tersebar berita bahwa permaisuri raja hamil.

*Source Kepompong


Friday, May 21, 2010

Sufi Sebagai Amalan Hidup

0 comments


Orang yang bercita-cita menjalani hidup cara sufi adalah mereka yang ingin menempuh jalan tasawuf. Amalan hidup sufi sangat dituntut oleh Allah s.w.t kerana ia menyamai kehidupan para nabi dan orang-orang soleh. Seorang sufi bukanlah lari daripada harta dan kemewahan tetapi hatinya tidak terpaut kepadanya. Begitu juga seorang sufi tidak menahan nafsunya sebagaimana ahli-ahli agama bukan Islam tetapi dapat mengawalnya ketika berhadapan dengan godaan.

Selama ini ramai orang menyangka seorang sufi suka hidup menyendiri dan jauh dari masyarakat umum serta sering berpakaian buruk. Namun sebenarnya seorang sufi adalah mereka yang dapat mentadbir dunia ini dengan mudah. Hidup sufi yang dituntut adalah diantaranya, syukur dengan nikmat, berani ketika berhadapan dengan kezaliman, sabar dengan ujian dan redha menghadapi kesusahan. Sekiranya dia seorang ulama, dia akan mempengaruhi rajadan bukannya membiarkan sahaja kemungkaran terutama di kalangan atasan.

Di dunia moden ini, kita memerlukan jiwa-jiwa sufi yang dapat mengendalikan segala kemudahan dan cara hidup dengan lebih bermaruah. Insya-Allah tiada lagi amalan rasuah, khianat, iri hati, berdendam dan suka menyalahkan orang lain.

Contohi lah Rasulullah yang sentiasa hidup sederhana  meskipun Allah sedia mengurniakan kemewahan kepadanya mahupun ketika berada dipuncak kekuasaan. Baginda tidak suka memerintah orang lain melakukan kerja-kerja yang boleh di buatnya sendiri. Baginda juga sentiasa meluangkan masa bersama keluarganya sengguh pun sibuk dengan berbagai urusan. Jadikan sufi sebagai amalan hidup kita. Mudah-mudahan kita memperolehi kebahagiaan di dunia sebelum menikmati kebahagiaan  di Akhirat. Amin...

Sekian, Wassalam.



Thursday, May 20, 2010

Sang Sufi

0 comments

Tersebutlah seorang penganut tasawuf bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan amat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan. Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia mempunyai kebun subur berhektar-hektar dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi ratusan keluarga yg bergantung padanya. Tingkat kemakmuran para kuli dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan usianya.

Salah seorang anaknya pernah bertanya, `Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu?"

"Ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka menempati sebuah gubuk kecil," jawab sang sufi yang tidak terkenal itu.

"Pertama, karena betapa pun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-harian ia Cuma mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya. Dan ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah."

Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya dalam hati. Apalagi ketika sang Ayah melanjutkan argumentasinya,

"Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih selesa.

"Ketiga, kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Apalagi Ayah dan Ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?"

Si anak tercenung. Alangkah bijaknya sikap sang ayah yang tampak lugu dan polos itu. Ia seorang hartawan yang kekayaannya melimpah. Akan tetapi, keringatnya setiap hari selalu bercucuran. Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman. Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling mendasar. Ia tidak melayang-layang dalam buaian harta benda sehingga sebenarnya bukan merasakan kekayaan, melainkan kepayahan semata-mata. Sebab banyak hartawan lain yang hanya bisa menghitung-hitung kekayaannya dalam bentuk angka-angka. Mereka hanya menikmati lembaran-lembaran kertas yang disangkanya kekayaan yang tiada tara. Padahal hakikatnya ia tidak menikmati apa-apa kecuali angan-angan kosongnya sendiri.

Kemudia anak itu lebih terkesima tatkala ayahnya meneruskan, "Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma/gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat?

Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahkluknya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan hanya keserakahan seorang manusia saja." 

*Source Kisah-Kisah Islam 


Wednesday, April 28, 2010

Jamil Butsainah

0 comments

Nama lengkapnya adalah Jamil bin Adullah bin Muammar al-Udzri, sedangkan nama panggilannya Abu Umar. Penyair yang terkenal dengan kisah cintanya di kalangan bangsa Arab ini sangat mencintai salah seorang gadis dari kabilahnya, Yatsinah. Dari sini tersebarlah cerita tentang cinta keduanya. Syair-syair mengalir begitu lembut, kebanyakan bertemakan cinta dan kasih sayang, kebanggaan, serta lukisan keindahan dan kecantikan wanita. Ia wafat pada tahun 82H. Az-Zubair bin Bakkar telah meriwayatkan dari Abbas bin Sahl as-Sa'idi bahwa menemui Jamil menjelang wafatnya.

Saat itu Jamil bertanya kepadanya, "Wahai saudaraku, apa pendapatmu tentang seseorang yang belum pernah minum khamar sedikitpun. Ia pun tidak berzina ataupun mencuri dan tidak pernah membunuh sesama. Ia benar-benar bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?"

Abbas bin Sahl menjawab, "saya kira orang itu akan selamat dari siksa neraka dan saya berharap ia masuk ke dalam surga. Siapakah orang itu, wahai Jamil?" tanya Abbas.

Jamil menjawab, "Akulah orangnya."

Abbas terperangah mendengar jawaban Jamil, lalu katanya lagi, "Allahu Akbar!

Sungguh saya sama sekali tidak mengira kalau engkau tidak pernah melakukan itu semua. Bukankah engkau selama dua puluh tahun banyak melukiskan tentang keindahan tubuh wanita, seperti Yatsinah, dalam syair-syairmu?"

Jamil menjawab, "Biarlah aku tidak mendapatkan syafa'at dari Nabi Muhammad saw. Di akhirat kelak seandainya aku pernah meletakkan tanganku pada diri beliau dengan sesuatu yang meragukan. sesungguhnya kini aku berada pada hari pertama dari hari-hari akhirat dan hari terakhir dari kehidupan dunia." jawab Jamil dengan sunguh-sungguh. Dan tak lama kemudian ia pun wafat.
*Source Kisah-Kisah Islam 


Sunday, February 14, 2010

Pengajaran Yang Berguna

0 comments


Di zaman Abu Yazid al-Bustami, terdapat seorang murid yang masih dalam peringkat mendalami persoalan kesufian. Murid itu telah datang menemui beberapa orang guru untuk bertanyakan beberapa soalan. Dalam keghairahan bertanya itu, kadangkala dia hanya mengemukakan soalan sekadar membanding-bandingkan pendapat guru-guru yang ditemuinya. Suatu ketika, murid itu datang berjumpa Syeikh Abdurrahman bin Yahya untuk bertanyakan persoalan mengenai tawakal.

 Murid itu bertanya,“Wahai Syeikh, bagaimanakah tawakal itu?”

Syeikh Abdurrahman lalu menerangkan, Seandainya kamu memasukkan tanganmu kedalam mulut ular berbisa, janganlah kamu berasa takut selain kepada Allah.”

Murid itu kemudiannya menuju kerumah Abu Yazid Al-Bustamiuntuk bertemunya dan bertanyaka soalan yang sama. Sampai dirumah Abu Yazid,murid itu memberi salam dan meminta izin untuk masuk. Namu Abu Yazid tidak membuka pintu apalagi menjemputnya masuk kerumah, sebaliknya terus bertanya,

“Bukankah jawapan yang diberikan oleh Syeikh Abdurrahman  sudah cukup buat kamu?”

“Benar, tapi bukalah pintu ini dulu dan benarkanlah saya masuk,” minta murid itu.

“Tidak perlu, kamu datang hanyalah untuk membanding-bandingkan pendapat antara guru, jadi jawapannya cukuplah diterima dari belakang pintu sahaja,” beritahu Abu Yazid.

Timbul rasa kesal dihati murid tersebut kerana sikapnnya yang tidak baik itu. Dia lantas bertaubat dan berazam akan menziarahi Abu Yazid disuatu hari nanti. Sejak hari itu, murid tersebut telah berusaha membersihkan hatinya. Setelah setahun berlalu, berulah murid itu datang kembali kerumah AbuYazid. Kali ini Abu Yazid menyambut kehadirannya dengan gembira.

Ucapnya, “Selamat datang, kini berulah benar-bear kamu datang menziarahiku.”

Murid itu menetap bersama Abu Yazid Al-Bustami selama sebulan. Selama tinggal bersama sesuatu yang tidak baik terdetik dihatinya akandiketahui oleh Abu  Yazid. Kemudian AbuYazid akan memberitahu murid itu apakah kesilapannya lalu membetulkannya.

Bagi seseorang murid hendaklan dia sentiasa memeliharaadab-adab kepada gurunya. Jangan sampai menyinggung perasaan guru sehingga ilmuyang diperolehi tidak diberkati Allah.

*Sumber Buku Kisah-Kisah Sufi.


Bahaya Kekuasaan

0 comments


Sufyan Ats-Tsauri merupakan salah seorang ulama besar.Beliau pakar dalam ilmu hadis dan tergolong ahli ilmu feqah yang terkemuka. Imam Abu Hanafiah sendiri sering bertemu dengannya untuk membincangkan persoalan mengenai beberapa hukum feqah. Beliau dibesarkan dari sebuah keluarga yang sememangnya menghargai ketinggian ilmu. Malah ibunya merupakan pendorong kuat kepada Sufyan supaya menuntut ilmu dari usia muda lagi. Justeru itu tidak hairanlah, beliau sudah member fatwa-fatwa ketika masih muda.

Sufyan menyara dirinya dengan berdagang secara kecil-kecilan. Beliau membeli barang dagangan dari Yaman dan kemudiannya menjual di Kufah. Hasil dagangannya hanya sekadar membantunya untuk beribadah dan memeliharanya dari kelaparan. Beliau juga bersedia meminjamkan wangnya kepada sesiapa yang ingin berdagang tanpa pembahagian keuntungan.

Ulama ini menjalani hidupnya secara zuhud dengan menjauhkan dari kemewahan.  Khalifah abu JaafarAl-Mansur dan juga Al-Mahdi sering menawarkan kedudukan dan kesenangan padanya.Namun sufyan lebih rela menghadapi penindasan daripada menerima tawaran tersebut. Sufyan juga pernah menolak wang pemberian dari Khalifah Al-Mansur yang berjumlah ribuan dirham. Beliau sebenarnya berpeluang menjadi orang terkaya di Kufah namun beliau tetap memilih untuk hidup zuhud.

Beliau pernah menyatakan, “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih rendah dari kekuasaan. Seringkali terdapat seorang zuhud yang menjauhi makanan sedap, minuman segar, harta kekayaan dan pakaian indah, namun ketika diberi kekuasaan tiba-tiba dia menjadi seorang yang zalim.”

Selain menjauhkan diri dari kesenangan duniawi, Sufyan juga sentiasa menjaga hatinya supaya terlepas dari sifat takabur, bangga dan riyak. Mengenai hal ini beliau pernah berkata,

“Kadangkala seseorang mengerjakan kebaikan secara rahsia, tetapi syaitan sentiasa menggodanya sehingga dapat menaklukinya. Maka kemudiannya orang itu pu mengerjakan kebaikan secara terang-terangan. Syaitan ,menggodanya lagi sehingga dia ingin dipuji ketika mengerjakan kebaikan, maka itulah yang dikatakan riyak. Sesungguhnya seburuk-buruk keinginan adalah mencari harta dengan amalan akhirat.”

Sufyan Ats-Tsauri dilahirkan pada tahun 97H di kufah dan menetap lama disana. Akhirnya beliau berpindah ke Basrah dan meninggal duniapada tahun 161H.

*Sumber  Buku Kisah-Kisah Sufi Siri.


Thursday, February 11, 2010

Hidup Seorang Sufi

0 comments


 Imam Fakhruddin ar-Razi merupakan seorang ulama tafsir yang hidup zuhud. Dia banyak mewarisi harta ayahnya yang merupakan khatib negeri Ar-Rai di mana sering mendapat hadiah dari sultan dan para pegawai tinggi kerajaan.

Meskipun Imam Ar-Razi termasuk golongan hartawan namun diatidak mengabaikan peranannya sebagai ulama yang meyebarkan ilmu. Dia telah Berjaya menggabungkan urusan dunia dengan akhirat. Ketokohan Imam Ar-Razi begitu dikagumi dan disegani oleh semua peringkat termasuklah para ulama,raja-raja dan golongan atasan.

Apabila mereka ingin bertemu dengan Imam Ar-Razi, mereka akan datang sendiri kerumah ulama itu dan bukan memanggilnya ke istana. Begitu juga dengan Sultan Alauddin Khawarizma, dia akan datang kerumah Imam Ar-Razi tanpa diiringi oleh para pengawalnya. Imam Ar-Razi juga pernah megunjungi negeri Harrah. Sultan negeri itu sendiri yang menyambut kedatangannya denngan penuh hormat. Ulama itu telah dihamparkan permaidani dan sejadah didalam masjid.

Harta yang banyak tidak menjadikan dirinya lupa kepada Allah dan perjuangan Islam. Imam Ar-Razi hanya memakai pakaian yang begitu sederhana cukup untuk menutup aurat. Dia juga hanya makan sekadar bagi memberinya tenaga untuk mengajar amalan-amalan lain. Ternyata kehidupannya tidak berbeza dengan kaum sufi yang lain.

Meskipun Imam Ar-Razi mendapat sanjungan ramai, namun adajuga golongan yang tidak sependapat dengannya. Ini disebabkan perbezaan fahaman. Malah dikatakan aliran Al-Kiramiah telah meracuni Imam Ar-Razi sehingga membawa kepada maut. 

*Sumber Buku Kisah-Kisah Sufi.


Wednesday, February 10, 2010

Pencuri Kena Pukau

0 comments


Suatu malam, seorang pencuri telah Berjaya memasuki rumahseorang ulama sufi bernama Ahmad bin Khazruya. Waktu itu ulama sufi itu sedangberzikir dengan khusyuknya. Pencuri itu melihat-lihat di sekitar rumah itu dandia pasti tiada orang didalamny. Dia pun mula mencari-cari barang berharga danmembonkar kesana sini. Namun setelah lama mencari, dia masih tidak menemuibarang yang bernilai yang boleh diambil.

Dirumah itu hanya terdapat sebuah baldi lama, itu pun sudahburuk dan pudar warnanya. Pencuri itu berasa amat kecewa lalu mahu meninggalkanrumah itu. Ketika menghala kepintu, tiba-tiba dia terdengar seseorangmemanggilnya.

Orang itu ialah Ahmadbin Khazruya, katanya, “Anak muda, janganlah engkau keluar sebelum memperolehiapa-apa dari rumah ini.”

“Tidak ada apa-apa yang boleh saya ambil,” beritahu pencuriitu.

“Kalau begitu, ambillah baldi itu. Dibelakang rumah ini adasebuah perigi, pergilah engkau menimba air di sana dan berwuduklah. Kemudiansolatlah,” kata  Ahmad bin Khazruyamemberi arahan. Sambung ulama sufi itu lagi, “Sekiranya aku mendapatkan sesuatusebelum engkau pergi, aku akan berikan kepadamu supaya engkau tidak pulangdengan tangan kosong.”

Pencuri itu seolah-olah terpukau menerima arahan Ahmad binKhazruya. Dia melakukan segala yang diperintahkan oleh ulama sufi itu. Sesudahsolat dengan khusyuk, pencuri it uterus berzikir sehinggalah masuk waktu subuh.Pada awal pagi, seorang lelaki datang kerumah Ahmad bin Khazruya. Diamenghadiahkan wang sebanyak seratus dinar. Ahmad bin Khazruya menerima wangtersebut.

Kemudian dia memanggil pencuri itu lalu berkata, Wahai anakmuda, ambillah semua wang ini sebagai ganjaran engkau mengerjakan solat malamtadi.”

Pencuri itu lalu berkata dengan suara gementar. “masya-Allah!Baru satu malam saya mengerjakan solat, sudah dihadiahkan dengan ganjaran yangbegitu banyak. Sedangkan selama ini saya telah memilih jalan yang salah.”

Pencuri tersebut tidak mahumenerima wang dinar dari ulamasufi itu. Malah dia menyatakan kekesalannya dan mahu bertaubat. Akhirnya diamenjadi salah seorang murid Ahmad bin Khazruya yang soleh.

*Sumber Buku Kisah-Kisah Sufi.


Di Hukum Kerana Kasihan

0 comments


Ibnu Khafif begitu mengambil berat terhadap makan minumnya.Meskipun dia seorang yang berada dan sering bersedekah namun dia hanya makan sedikit sahaja. Setiap hari Ibnu Khafif akan hanya memakan tujuh biji anggur kering (Kismis). Dia tidak akan makan lebih daripada itu.

Suatu malam, pembantu rumahnya telah menghidangkan lapan biji anggur kering. Ibnu Kafifi yang tidak meyedari bilangan anggur kering itu telah memakan kesemua makanan yang disediakan untuknya. Malam itu, Ibnu khafiftidak mendapat kepuasan dalam beribadah kepada Allah sebagaimana biasa.

Ibnu Khafif kehairanan dan tidak tahu mengapa terjadi demikian. Dalam keadaan tertanya-tanya itu, Ibnu Khafif lalu memanggil pembantu rumahnya .

“Adakah apa-apa yang tidak kena berlaku didalam rumah ini?” soal Ibnu Khafif.

“Sebenarnya tadi, saya telah menghidangkan lapan biji kismis kepada tuan,” Kata pembantu rumahnya membuka rahsia.

“Mengapa kamu berbuat begitu?” Tanya Ibnu Khafif ingin tahu.

“Sebab saya melihat badan tuan agak lemah, saya merasa kasihan melihatnya jadi saya pun menambahkan kismis itu supaya tuan lebih bertenaga,” jelas pembantu rumahnya lagi yang ternyata berniat baik.

“Jika begitu, kamu bukanlah seorang teman yang setia sebaliknya kamu adalah musuhku sekiranya kamu benar-benar kasihan kepadaku, sudah tentu kamu akan menghidangkan enam biji kismis dan bukannya lapan,” Kata Ibnu Khafif.

Meskipun niat pembantu itu baik untuk menolong majikannya namun tindakannya itu tetap merupakan kesalahan bagi Ibnu Khafif. Akibat kesalahannya itu Ibnu Khafif telah memecatnya dan diganti dengan pembantu rumah yang baru.

Walaupun Ibnu Khafif seorang yang kaya namun dia tetap menjaga makannya. Dia lebih mementingkan kelazatan beribadah daripada keinginan nafsu dan perutnya.

*Sumber Buku Kisah-Kisah Sufi Siri 8.


Doktor Menerima Rawatan

0 comments


Syeikh Asy-Syibli pernah ditimpa sakit. Apabila berita ini diketahui oleh Ali bin Isa yang merupakan wazir ketika itu, dia terus melaporkannya kepada Khalifah dengan mengirimkan sepucuk surat.

Sebaik sahaja surat itu diterima, Khalifah segera menghantar seorang doktor pakar untuk mengubati penyakit yang sedang dihadapi olehAsy-Syibli. Doktor itu beragama Kristian. Doktor itu pun memeriksa badan Asy-Syibli untuk mengetahui apakah penyakit yang sedang  diderati oleh Syeikh tesebut.

Setelah lama memeriksa, doktor itu masih tidak dapat mengesan apa-apa penyakit. Doktor itu cuba dengan sedaya upayanya untuk mengubati Asy-Syibli namun usahanya tidak mendatangkan sebarang hasil.Asy-Syibli tetap menderita sakit.

“Wahai Syeikh, jika penyakit tuan ini hanya boleh diubati dengan memindahkan seketul daging saya, saya tidak teragak-agak lagi untuk melakukannya. Akan tetapi masalahnya sekarang inilah, saya tidak tahu apakah penyakit yang sedang dideritai oleh tuan,” kata doktor itu mengalah.

Asy-Syibli lalu menjelaskan,”Sebenarnya, ubat untuk menyembuhkan diriku bukanlah semua itu semua.”

“Jadi, apakah ubat yang boleh menyembuhkan tuan?” Tanya doktor Kristian itu.

“Engkau tanggalkan salib pada tubuhmu itu!” Kata Asy-Syibli.

Tanpa berfikir panjang, doktor itu terus menaggalkan salib tersebut. Kemudian dia pun melafazkan, 

“Asyhadu alla ilaha ilallah, wa asyhaduanna muhammadar rasulullah.”

Berita doktor kristian yang sudah memeluk Islam itu sampai kepada pengetahuan khalifah. Khalifah lalu menangis, dia berasa bersyukur.

Katanya, “Aku menyangka dengan menghantar doktor itu, diaakan mengubati orang sakit, tetapi rupa-rupanya aku menghantar orang sakituntuk diubati oleh seorang doktor.”

*Sumber Buku Kisah-Kisah Sufi.


Tepat Pada Masanya

0 comments


Daud At-Ta’i banyak menghabiskan masanya untuk beribadah. Bibirnya sentiasa menyebut-nyebut nama Allah s.w.t. Apabila Daud At-Ta’I ingin memakan sesuatu, makanan itu akan direndamnya terlebih dahulu. Setelah hancur makanan tersebut berulah dia mengambilnya dan menelannya. Dia berbuat demikian kerana mahu menggunakan masa mengunyah makanan itu untuk menyebut nama Allah.

Daud At-Ta’I menanggung hidupnya cukup sekadar melalui wang diperolehinya hasil jualan rumah warisan. Wang itu telah digunakannya selama berpuluh tahun.

Suatu hari khalifah Harun ar-Rasyid bersama seorang pegawai kanannya Yusuf menziarahi Daud At-Ta’I dirumahnnya untuk meminta nasihat. Daud At-Ta’I telah menyampaikan nasihat yang sungguh menyentuh hati sehingga membuatkan Khalifah menangis tersedu-sedu.

Sebelum melangkah pulang Khalifah telah menghulurkan sedikit wang kepada Daud At-Ta’i . Khalifah sangat bersimpati melihat keadaan Daud At-Ta’i yang dirasakannya begitu daif.

“Ambillah wang ini, iainya halal,” kata Khalifah.

“Ambillah kembali, saya tidak memerlukannya. Saya menyera hidup dari wang halal hasil jualan sebuah rumah warisan. Saya berdoa kepada Allah sekiranya wang iu habis, maka biarlah nyawa saya diambil. Dengan itu saya tidak perlu lagi mengharapkan bantuan manusia. Saya sangat berharap semoga doa itu dikabulkan Allah,” Kata Daud At-Ta’i.

Khalifah Harun ar-Rasyid dan yusuf pun kembali pulang keistana. Namun secara senyap , Yusuf pergi berjumpa dengan orang yang menguruskan wang perbelanjaan Daud At-Ta’i.

Yusuf bertanya, “Berapa banyak lagi wang syeikh Daud yang masih tinggal?”

Tinggal lagi dua dirham, dia hanya membelanjakan satu sen setiap hari,” beritahu orang itu.

Yusuf lalu mengira sehingga lama mana wang itu dapatd igunakan. Suatu hari, Yusuf membuat pengumuman di atas mimbar, “ari ini syeikh Daud At-Ta’I sudah meninggal dunia.”

Orang ramai yang mendengar berita itu menjadi hairan dan tertanya-tanya. Adakah berita yang disampaikan oleh pegawai kanan Khalifah itu benar? Apabila diselidiki kenyataan itu, ternyatalah iainya benar.

Maka orang ramai pun bertanya kepada Yusuf, “Bagaimana engkau mengetahui yang Sueikh Daud sudah meninggal dunia?”

“Dalam jangkaan saya, wang simpanan Syeikh Daud sudah punh abis pada hari kematiannya. Saya yakin doanya dikabulkan oleh Allah.” TerangYusuf.

*Sumber Buku Kisah-Kisah Sufi.


Thursday, January 14, 2010

Harta Dunia

0 comments


Suatu hari seorang kaya datang kerumah junaid al Baghdadi. Dia ingin memberi wang sebanyak lima ratus dinar.

Orang kaya itu berkata. “Terimalah hadiah ini untuk tuan guru.”

Junaid lalu bertanya, adakah engkau memiliki wang selain ini?”

“Ya, saya masih memiliki banyak wang,” beritahu orang kaya itu.

Junaid bertanya lagi, “Adakah engkau ingin memiliki wang yang lebih banyak?”

“Sudah tentulah, wahai tuan guru!” Katanya berterus-terang.

“Kalau begitu, ambillah wang ini kembali kerana engkau lebih memerlukannya. Walaupun aku tidak ada wang namun aku tidak memerlukannya kerana tiada apa yang mahu dibeli,” Kata Junaid.

Orang kaya itu berasa begitu malu mendengar ucapan Junaid tersebut. Dia pun pulang membawa wang yang tidak mahu diterima oleh Junaid.Lazimnya manusia memang tidak cukup dengan apa yang dimilikinya. Sungguh pun sudah memiliki banyak harta namun dia akan mengimpikan untuk mendapat lebih banyak harta lagi.

*Sumber  Buku Kisah-Kisah Sufi.


Hanya Abu

0 comments


Suatu hari Abu Usman bersama beberapa orang muridnya berjalan-jalan dijalan raya. Sampai di sebuah rumah bertingkat, tiba-tiba seseorang telah membuang abu dari tingkat atas rumah itu. Abu itu jatuhbertaburan kebawah dan tepat terkena kepala Abu Usman. Seban. Muka dan jubah Abu Usman menjadi kotor dan hitam.

Ini menimbulkan kemarahan murid-murid Abu Usman. Mereka ingin bertemu orang yang membuang abu itu untuk member peringatan kepadanya supaya berhatihati ketika membuang sampah kebawah. Namun abu Usman segera menahan mereka.

Katanya, “Kita hendaklah bersyukur seriu kali kerana kitayang sepatutnya ditimpa oleh api panas, tetapi Alhamdulillah ianya telah sejukdan menjadi abu.”

Kemudian Abu Usman berdoa: “Ya Allah, ya tuhanku. Hambamu ini berdosa dan layak dibakar dengan api yang menyala-nyala itu. Akan tetapi Engkau Maha Pengasih Lagi MahaPenyayang telah membuatkan api itu sejuk dan menjadi abu yang jatuh ke atas kepalaku. Aku bersyukur kepada-Mu, ya Allah.”

Hamba-hamba yang bertaqwa itu akan sentiasa mengambil hikmah dari sebarang musibah yang menimpanya. Dengan itu barulah dia tidak mudah bersangka-buruk dengan makhluk lebih-lebih lagi kepada Allah s.w.t.

*Sumber  Buku Kisah-Kisah Sufi.


Benci Memakan Diri

0 comments

Di zaman Samnun al-Muhib terdapat seorang yang terkemuka bernama Ghulam Khalik. Ghulam Khalil sangat membenci golongan sufi. Golongan sufi ketika itu sering diganggu dan disakiti oleh Ghulam Khalil. Ghulan Khalil berbuat demikian kerana mahu menghentikan kegiatan orang-orang sufi tersebut. Namun golongan sufi tetap meneruskan kegiatan mereka. Ini menyebabkan cita-cita Ghulam Khalil yang berniat jahat itu sentiasa menemui kegagalan.

Kemudian Ghulam Khalil menukar taktiknya pula. Sebelum ini di menentang secara terang-terangan, kali ini dia menikam kaum sufi tersebut secara senyap-sanyap. Dia menyamar sebagai guru mursyid dengan tujuan untuk memusnahkan golongan sufi dari dalam. Sebagai orang yang hampir dengan Khalifah, Ghulam Khalil menggunakan peluang ini untuk menghapuskan golongan sufi.

Dengan berbagai-bagai cara, dia menghasut dan mempengaruhi khalifah supaya kaum sufi itu dapat dihalau dari negeri itu. Di antara kaum sufi itu yang amat dibenci oleh Ghulam Khalil termasuklah Samnun al-Muhib. Ghulam Khalil sering mencari bermacam alasan untuk memfitnah Samnun namun masih tidak berjaya. Dimasa yang sama terdapat seorang wanita cantik lagi kaya yang berminat dengan Samnun. Dia ingin mengahwini lelaki sufi itu. Wanita itu datang sendiri menemui Samnun dan menyatakan hasrat hatinya. Namun hajat wanita itu tidak kesampaian.

Samnun yang belum tergerak untuk menerima wanita itu telah menolak hajatnya secara baik. Wanita itu tidak putus harapan, dia bertemu pula dengan Junaid al-Baghdadi. Dia meminta jasa baik Junaid supaya memujuk Samnun supaya sudi berkahwin dengannya. Junaid bukan sahaja tidak memenuhi hajatnya malah meminta wanita itu beredar dari sisinya. Ini menyebabkan wanita itu berasa amat sakit hati. Dia segera mendapatkan Ghulam Khalik lalu memburuk-burukkan Samnun.

Ghulam Khalil berasa sungguh gembira kerana dengan pengaduan wanita itu memberinya peluang untuk memfitnah Samnun. Tanpa berlengah lagi, Ghulam Khalil segera pergi menemui khalifah dan melaporkan pengaduan wanita kaya itu. Khalifah yang sudah termakan hasutan Ghulam Khalil lantas menjatuhkan hukuman pancung ke atas Samnun.

Tiba masanya hukuman dijalankan, tukang pancung bersedia dengan pedangnya. Sewaktu khalifah mahu memberi arahan 'pancung' tiba-tiba lidahnya kelu dan tenggoroknya dirasakan tersumbat. Ini menyebabkan hukuman pancung terhadap Samnun tidak dapat diteruskan pada hari itu. Hukuman itu ditunda pada hari lain yang masih belum ditetapkan tarikhnya.

Malam itu, khalifah bermimpi dan terdengar suara menyatakan: "kerajaanmu bergantung kepada hidupnya Samnun!".

Mimpi itu benar-benar membimbangkan khalifah. Esoknya awal-awal pagi lagi, khalifah memanggil Samnun dan membebaskannya dari segala tuduhan. Malah khalifah memberikan pula hadiah dan penghargaan yang tinggi kepada ulama sufi itu.

Penghormatan yang diperolehi oleh Samnun itu menambahkan lagi sakit hati Ghulam Khalil. Ghulam Khalil menyimpan rasa benci terhadap Samnun bertahun lamanya. Suatu ketika, Ghulan Khalil telah ditimpa penyakit kusta yang semakin hari semakin parah. Keadaan Ghulam Khalil itu telah disampaikan kepada Samnun.

Samnun lalu berkata, "Mungkin ada beberapa orang sufi yang tidak sempurna telah berniat jahat dan melakukan perbuatan yang tidak baik kepada dirinya sendiri." "Sememangnya Ghulan Khalil itu seorang yang gigih menentang kaum sufi. Malah dia berulang kali telah menyusahkan kaum sufi dengan perbuatannya. Moga-moga Allah menyembuhkan penyakit yang dihadapi olehnya," sambung Samnun lagi.

Apa yang diucapkan oleh Samnun itu sampai kepada Ghulam Khalil. Ghulam Khalil menyedari di atas segala kesalahannya lalu bertaubat kepada Allah. Dia menyerahkan segala hartanya kepada golongan sufi. Namun tidak seorang pun dari kaum sufi itu yang mahu menerimanya walaupun sedikit.

Janganlah mudah membenci dan mengkhianati golongan yang hampir dengan Allah kerana mereka biasanya mendapat pembelaan dari-Nya.

*Source Buku Kisah-Kisah Sufi.

ShareThis

 

Kisah Kisah Islam Copyright © 2011 | Template created by O Pregador | Powered by Blogger